Eduard Schulte, Pengusaha Jerman yang Membocorkan Rahasia Holocaust ke Dunia
- VIVA Jogja/der spiegel
VIVA Jogja - Musim panas 1942, sebuah pesan rahasia melintas dari Swiss menuju Inggris dan Amerika. Isinya mengejutkan: Nazi tengah merancang pembunuhan massal terhadap seluruh Yahudi Eropa.
Informasi itu bersumber dari seorang pengusaha bernama Eduard Schulte—orang dalam yang berani melawan dari balik meja rapat. pria yang kemudian dijuluki “sumber paling awal” yang memberi peringatan kepada Sekutu tentang rencana pembantaian massal orang Yahudi Eropa.
Lahir pada 4 Januari 1891 di Düsseldorf, Jerman, Schulte bukan tentara, diplomat, atau tokoh politik. Ia adalah direktur perusahaan tambang dan logam besar Giesche AG, yang beroperasi di Jerman dan wilayah Eropa Timur yang diduduki.
Posisi ini memberinya akses langka ke lingkaran elite industri dan pejabat Nazi. Dari ruang rapat tertutup, ia mendengar diskusi yang tidak diketahui publik: rencana pemusnahan sistematis terhadap jutaan Yahudi.
Pada 1942, Schulte mengetahui bahwa kepemimpinan Nazi, termasuk Adolf Hitler, telah memutuskan “Final Solution”—genosida orang Yahudi di seluruh Eropa dengan penggunaan gas beracun.
Informasi ini beredar di kalangan birokrat dan industri, terutama setelah Wannsee Conference, yang mengoordinasikan logistik pembantaian. Menyadari besarnya kejahatan tersebut, Schulte mengambil langkah ekstrem.
Ia melarikan diri secara rahasia ke Swiss, negara netral, untuk membocorkan informasi. Di sana, ia bertemu jaringan intelijen Yahudi dan diplomat Barat. Informasi itu kemudian diteruskan ke World Jewish Congress di New York AS, melalui perwakilannya, Gerhart Riegner.
Pada Agustus 1942, Riegner mengirim peringatan yang dikenal sebagai Riegner Telegram, salah satu dokumen pertama yang menyatakan bahwa Nazi merencanakan pembunuhan massal jutaan orang dengan metode gas beracun.
Namun, dunia belum siap menerima kenyataan tersebut. Banyak pejabat Sekutu menganggap laporan itu terlalu ekstrem dan sulit dipercaya. Fokus utama mereka tetap memenangkan perang.
Risiko yang dihadapi Schulte sangat besar. Jika tertangkap, ia bisa dihukum mati, keluarganya terancam, dan reputasinya hancur. Namun ia tetap memilih diam-diam membantu jaringan anti-Nazi.
Ironisnya, setelah perang berakhir, Schulte tidak langsung dikenang sebagai pahlawan. Ia hidup sederhana di Swiss hingga wafat pada 1966. Baru pada abad ke-21, sejarawan menyoroti perannya sebagai penyelamat moral.