KKN UMY Dorong Transformasi Digital dan Pengelolaan Lingkungan di Desa Bugel
- DOK UMY
KULONPROGO, VIVA Jogja – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bugel, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, menghadirkan terobosan baru dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan berbasis digital dan lingkungan, mereka berupaya memperkuat kapasitas desa agar lebih adaptif terhadap tantangan zaman.
Program yang dijalankan di Padukuhan Beran Pancasan ini menitikberatkan pada dua aspek utama. Pertama, pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Kedua, pembentukan bank sampah desa sebagai solusi atas persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Ketua Tim KKN UMY Kelompok 014, Gigih Dwi Cahyo, menjelaskan bahwa sebagian besar UMKM di wilayah Bugel masih mengandalkan transaksi tunai. Kondisi tersebut membatasi akses konsumen, terutama generasi muda yang terbiasa menggunakan pembayaran digital. “Kami membantu pelaku UMKM mendaftar QRIS, memahami cara kerja sistem pembayaran nontunai, hingga praktik penggunaannya. Harapannya, mereka bisa melayani konsumen lebih luas dan lebih modern,” ujarnya.
Dengan QRIS, pelaku usaha dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital hanya dengan satu kode. Selain memudahkan transaksi, sistem ini juga membuka peluang pencatatan keuangan yang lebih transparan, sehingga UMKM dapat mengelola usaha dengan lebih profesional.
Tidak berhenti pada aspek ekonomi, mahasiswa KKN UMY juga menaruh perhatian besar pada isu lingkungan. Mereka menginisiasi pembentukan bank sampah desa yang dirancang untuk mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Program ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi warga.
Salah satu anggota tim, Andra Fareza, menuturkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak sebatas sosialisasi. Mahasiswa merancang sistem pengelolaan yang melibatkan warga secara aktif. “Bank sampah ini kami buat agar berkelanjutan. Warga bisa menabung sampah yang sudah dipilah, lalu menukarkannya dengan nilai tertentu. Jadi, ada insentif ekonomi sekaligus dampak positif bagi lingkungan,” katanya.
Lurah Bugel, Drs. Sunardi, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, digitalisasi UMKM dan pengelolaan sampah merupakan dua isu strategis yang selama ini membutuhkan pendampingan. “QRIS membantu UMKM menjadi lebih modern dan efisien, sementara bank sampah mendorong desa lebih sehat dan produktif. Kami berharap program ini terus berlanjut meski masa KKN selesai,” ungkapnya.