Mobile Journalism Jadi Kunci Wartawan Bertahan di Era Konten Digital
- Viva Jogja
VIVA Jogja –Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara jurnalis bekerja dan menyajikan informasi.
Di tengah derasnya arus konten media sosial, kemampuan membuat berita melalui perangkat seluler atau mobile journalism (MoJo) kini menjadi keterampilan yang semakin penting bagi wartawan.
Namun, MoJo bukan sekadar soal menggunakan smartphone canggih, melainkan kemampuan menemukan fakta, menangkap momen, dan mengubahnya menjadi sebuah cerita yang utuh.
Hal tersebut disampaikan Digital Content & Visual Media Trainer Abdul Malik MSN dalam materi pelatihan Mobile Journalism 2026 pada Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2026 kolaborasi GWPP dan TBIG, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, seorang wartawan tidak lagi hanya dituntut mampu menulis ribuan kata untuk menjelaskan sebuah peristiwa, tetapi juga harus mampu menyampaikan cerita melalui visual yang kuat dan efektif.
“MoJo bukan soal smartphone. Yang terpenting adalah kemampuan menemukan fakta, menemukan momen, menemukan gambar, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita,” ,ujarnya.
Di era media digital, audiens semakin banyak mengonsumsi berita dalam format video pendek melalui berbagai platform seperti Instagram Reels, TikTok, YouTube Shorts, hingga media sosial lainnya.
Kondisi ini mendorong jurnalis untuk memahami karakteristik setiap platform agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara optimal.
Menariknya, dalam produksi video jurnalistik, audio disebut memiliki peran yang sangat besar.
Materi pelatihan tersebut menyebutkan bahwa audio menyumbang sekitar 50 persen dari kualitas sebuah video.
Penonton masih dapat memaklumi gambar yang kurang sempurna, tetapi cenderung sulit menerima kualitas suara yang buruk.
Karena itu, suara narasumber maupun suara lingkungan atau natural sound menjadi elemen penting dalam membangun pengalaman menonton.
Selain audio, pengambilan gambar juga menjadi fondasi utama dalam produksi berita visual.
Wartawan didorong menguasai berbagai jenis pengambilan gambar mulai dari wide shot, medium shot, hingga close-up agar cerita yang disampaikan memiliki konteks, detail, dan emosi yang kuat.
Dalam menyusun berita berbasis video, struktur cerita juga menjadi perhatian utama.
Mulai dari lead atau hook yang menarik perhatian audiens, aktivitas utama, lokasi kejadian, wawancara, penguatan informasi, hingga penutup harus tersusun secara sistematis agar pesan yang disampaikan mudah dipahami penonton.