Jurnalis Dituntut Adaptif, Jurnalisme Audio Visual Jadi Kunci Bertahan di Era Digital

Jurnalis Televisi, Jamalul Insan (kanan) saat memberikan materi Jurnalisme Audio Visual di Era Digital
Sumber :
  • Viva Jogja

VIVA Jogja –Perkembangan teknologi digital terus mengubah wajah industri media.

img_title Jurnalisme Multiplatform Jadi Kunci Bertahan di Era Media Sosial, Etika Tetap Prioritas

Jurnalis kini tidak lagi hanya dituntut mampu menulis berita, tetapi juga harus menguasai produksi konten audio visual yang cepat, menarik, dan sesuai kebutuhan audiens digital.

Jurnalis televisi, Jamalul Insan menjelaskan bahwa disrupsi teknologi telah mengubah cara media memproduksi, mendistribusikan, hingga mengonsumsi informasi.  

img_title CSR Tak Cukup Sekadar Program, Tantangan Mewujudkan Dampak Nyata

Menurutnya, era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi insan pers.

Media tidak lagi bersaing hanya dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga dengan derasnya arus informasi dari media sosial yang dapat diproduksi siapa saja.

img_title Mobile Journalism Jadi Kunci Wartawan Bertahan di Era Konten Digital

“Komunikasi strategis di era digital menuntut individu, organisasi, dan perusahaan memanfaatkan media digital secara efektif untuk mencapai tujuan komunikasi mereka.

Perubahan teknologi dan media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi dan berbagi informasi,” terang Jamalul saat sesi materi Jurnalisme Audio Visual di Era Digital pada kegiatan Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2026 kolaborasi GWPP dan TBIG, Rabu (10/6/2026).

Dalam lanskap media saat ini, Jamalul menilai setiap jurnalis perlu memiliki kemampuan sebagai reporter sekaligus content producer.

Kemampuan tersebut menjadi penting agar proses produksi berita dapat berjalan lebih cepat dan efisien di tengah persaingan informasi yang semakin ketat.  

Ia memaparkan setidaknya terdapat tiga tren utama dalam jurnalisme audio visual saat ini, yakni mobile journalism (MOJO), podcast video, serta konten video pendek vertikal yang populer di platform seperti TikTok, Shorts, dan Reels.

Ketiga format tersebut dinilai mampu menjangkau audiens yang lebih luas, khususnya generasi muda.  

Jamalul menjelaskan, perkembangan teknologi ponsel pintar telah mengubah perangkat komunikasi menjadi studio produksi berita bergerak.

Dengan bermodalkan telepon genggam, jurnalis kini dapat melakukan peliputan, wawancara, pengambilan gambar, hingga mengirimkan berita langsung dari lokasi kejadian.

“Keunggulan MOJO adalah efisiensi operasional, kecepatan distribusi berita, serta pendekatan wawancara yang lebih dekat dan tidak intimidatif bagi narasumber,” ujarnya.  

Di sisi lain, ia menyoroti perubahan perilaku audiens yang semakin menyukai konten visual.

Laporan trafik internet global menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet lebih memilih mengonsumsi informasi dalam bentuk video dibandingkan teks.

Halaman Selanjutnya
img_title