Ternyata Indonesia Miliki 252 Ragam Sate
- Istimewa
Temuan ini memperkuat posisi sate dan nasi goreng sebagai dua ikon kuliner Indonesia yang tidak hanya kaya secara rasa, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang mendalam. Keduanya layak menjadi representasi kuliner Indonesia di kancah internasional.
Penjaga Warisan Kuliner Nusantara
Prof Murdijati Gardjito adalah sosok yang tak tergantikan dalam dunia gastronomi Indonesia. Sebagai Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Gadjah Mada, ia telah mendedikasikan lebih dari lima dekade hidupnya untuk meneliti, mendokumentasikan, dan melestarikan makanan tradisional Indonesia. Di usia 81 tahun, meski mengalami keterbatasan penglihatan, semangatnya untuk berkarya dan berbagi ilmu tak pernah surut.
Prof. Mur memiliki ketertarikan mendalam terhadap kuliner sejak muda. Namun baru pada tahun 2003, saat menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM, ia mulai memfokuskan diri sepenuhnya pada kajian kuliner Nusantara. Ia menyadari bahwa makanan tradisional bukan sekadar resep, tetapi sistem pengetahuan yang mencerminkan jati diri bangsa.
Selama kariernya, Prof. Mur telah menulis lebih dari 70 buku, sebagian besar membahas kuliner Indonesia. Ia memetakan makanan berdasarkan etnis, menelusuri sejarahnya, mengkaji bahan dan teknik memasaknya, lalu menuangkannya dalam tulisan yang rapi dan sistematis. Baginya, literasi kuliner adalah kunci agar warisan rasa tidak hilang ditelan zaman. Ia sering menyebut bahwa banyak pengetahuan kuliner Indonesia hanya diwariskan secara lisan, dan ketika pewarisnya tiada, cerita itu ikut terkubur.
Salah satu karya pentingnya adalah buku “Pusaka Cita Rasa Indonesia” yang menekankan bahwa teknologi pangan harus berpadu dengan nilai sosial dan budaya. Ia percaya bahwa gastronomi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan identitas.
Kehidupan Prof. Mur juga menjadi inspirasi dalam hal ketekunan dan disiplin. Meski kehilangan penglihatan, ia tetap aktif menulis dengan bantuan para asistennya. Mereka membantunya membaca, mengetik, dan menyusun materi ajar. Kerja kolektif ini telah menghasilkan puluhan karya yang memperkaya khazanah kuliner Indonesia.
Lebih dari sekadar akademisi, Prof. Mur adalah penjaga ingatan kolektif bangsa. Ia menyimpan arsip kuliner seperti menyimpan harta karun: dokumen, foto, hasil riset, dan naskah-naskah penting yang menjadi fondasi pengetahuan gastronomi Indonesia. Melalui dedikasinya, ia membuktikan bahwa makanan bisa menjadi medium untuk membangun karakter bangsa dan menyadarkan masyarakat akan martabat budaya mereka.