Guyon Waton: Dari Kulonprogo ke Panggung Nasional
- Istimewa
VIVA Jogja – Grup band asal Kulonprogo beraliran dangdut modern, berhasil menorehkan jejak yang kuat dengan gaya musik yang sederhana namun penuh makna. Guyon Waton, yang lahir pada 2015, kini dikenal sebagai salah satu ikon musik Jawa modern. Nama mereka melejit berkat lagu “Korban Janji” yang viral pada 2018, dan sejak itu Guyon Waton terus menancapkan pengaruhnya di panggung musik nasional.
Nama “Guyon Waton” berasal dari bahasa Jawa, yang berarti bercanda asal-asalan. Meski terdengar santai, karya mereka justru digarap dengan keseriusan dan ketulusan. Berawal dari pertemanan dan nongkrong di pinggir jalan, Guyon Waton tumbuh menjadi band yang mampu mengangkat musik daerah ke level nasional. Mereka mengusung genre dangdut akustik, pop koplo, dan pop Jawa, dengan lirik yang sebagian besar menggunakan bahasa Jawa. Identitas ini membuat mereka dekat dengan masyarakat, sekaligus menjadi ciri khas yang membedakan dari band-band lain.
Formasi Guyon Waton terdiri dari enam orang: Faisal Bagus sebagai vokalis utama, Ahmad Arifin di gitar akustik, Hieronimos Ferry Widiyatmoko di gitar melodi, Ndika Rismaya pada ukulele, Andreas Wahyu Susilo Jati di kendang, serta Yuli Purwanto di bass. Perpaduan latar belakang dan instrumen ini menghasilkan warna musik yang unik, sederhana, namun penuh energi.
Perjalanan karier mereka mulai menanjak ketika “Korban Janji” dirilis. Lagu ciptaan Andry Priyanta itu menjadi fenomena di media sosial dan platform digital. Dengan lirik patah hati yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, lagu tersebut cepat diterima oleh masyarakat luas. Setelah itu, Guyon Waton merilis sejumlah karya lain yang tak kalah populer, seperti “Perlahan,” “Menepi,” “Klebus,” dan “Sebatas Teman.” Lagu-lagu ini semakin mengukuhkan posisi mereka sebagai band yang mampu menghadirkan musik Jawa dengan sentuhan modern.
Guyon Waton tidak hanya hadir di dunia digital. Mereka aktif tampil di berbagai panggung besar, dari konser kampus hingga festival musik nasional. Penampilan mereka selalu dipadati penonton, terutama generasi muda yang merasa terhubung dengan lirik berbahasa Jawa dan nuansa musik koplo yang menghibur. Kehadiran Guyon Waton membuktikan bahwa musik lokal bisa bersaing dengan genre populer lain, bahkan mampu menembus pasar nasional.