Ekonomi DIY Stabil, Inflasi Terkendali dan Optimisme Terjaga di Triwulan II 2026
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,75 persen year on year. Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,84 persen, namun tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa yang tumbuh 5,65 persen dan nasional yang berada di 5,29 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa perekonomian DIY masih berada dalam jalur positif dengan dukungan sektor-sektor utama yang terus bergerak dinamis.
Industri pengolahan menjadi salah satu motor penggerak dengan pertumbuhan 5,40 persen. Sub-sektor makanan dan minuman tumbuh seiring program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) serta ekspor barang rajutan dan plastik yang naik hingga 23,19 persen. Meski demikian, normalisasi pasca Ramadan dan Iduladha membuat kinerja industri pengolahan tidak sekuat triwulan sebelumnya. Sektor akomodasi dan makan minum juga mengalami perlambatan, tumbuh 10,56 persen, dipengaruhi oleh berakhirnya musim liburan. Pertanian hanya tumbuh tipis 0,02 persen akibat menurunnya produksi padi dan jagung setelah panen raya. Sebaliknya, konstruksi mencatat pertumbuhan impresif 7,82 persen berkat proyek besar seperti Tol Jogja-Solo, Tol Jogja-Bawen, gedung DPRD DIY, Jembatan Kewek, gedung Mapolda DIY, hingga pembangunan jalan di Tegalsari–Klepu, Srandakan–Poncosari–Pandansimo, dan Gading–Saptosari.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,80 persen, meski melambat karena berkurangnya aktivitas pariwisata dan perdagangan pasca momentum Ramadan dan Iduladha. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,95 persen, tertahan oleh kontraksi realisasi investasi APBD sebesar 24,41 persen. Konsumsi pemerintah juga melambat, tumbuh 18,34 persen, dipengaruhi percepatan belanja barang dan jasa serta program MBG yang berhenti sementara saat libur sekolah.
Tren positif perekonomian DIY diiringi dengan inflasi IHK yang terkendali. BPS mencatat pada Juli 2026 terjadi deflasi bulanan 0,31 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Juni sebesar 0,37 persen. Inflasi tahunan DIY berada di angka 2,54 persen, turun dari 2,91 persen pada Juni. Kota Yogyakarta mencatat deflasi bulanan 0,17 persen dengan inflasi tahunan 2,83 persen, sementara Gunungkidul mengalami deflasi 0,42 persen dengan inflasi tahunan 2,30 persen.
Deflasi terutama dipicu oleh penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat masing-masing menyumbang deflasi dengan andil 0,07 persen hingga 0,03 persen. Tekanan deflasi tertahan oleh kenaikan harga wortel dan ketimun akibat cuaca panas yang menurunkan hasil panen. Kelompok perawatan pribadi juga menekan inflasi dengan turunnya harga emas perhiasan seiring pelemahan harga global. Sebaliknya, kelompok transportasi memberi andil inflasi 0,11 persen, terutama dari bensin yang naik setelah penyesuaian harga Pertamax dari Rp12.000 menjadi Rp16.250 per liter pada Juni.