Fenomena Downgrading Menguat, Ekonom UGM Ingatkan Dampak Tekanan Daya Beli

Fenomena downgrading terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Sumber :
  • Istimewa

img_title Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen, Tantangan Kesejahteraan Kelas Menengah

SLEMAN, VIVA Jogja - Fenomena downgrading atau penurunan kualitas konsumsi masyarakat menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir. Perubahan pola belanja yang ditandai dengan beralih ke produk lebih murah, mengurangi frekuensi makan di luar rumah, hingga memilih kendaraan dengan harga lebih terjangkau, semakin nyata terlihat di tengah ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini, menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan respons rasional rumah tangga terhadap tekanan daya beli.

Dalam wawancara pada Rabu (07/10/2026), Wisnu menjelaskan bahwa fenomena downgrading merupakan bentuk consumption smoothing, yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan tetap stabil dengan mengorbankan pengeluaran tersier. “Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujarnya.

img_title Ekonomi DIY Stabil, Inflasi Terkendali dan Optimisme Terjaga di Triwulan II 2026

Ia menekankan bahwa masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sekadar ingin berhemat, melainkan karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran semakin terbatas. Ketika pendapatan stagnan sementara harga kebutuhan dasar terus meningkat, rumah tangga terpaksa menurunkan kualitas konsumsi agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok.

Menurut Wisnu, persoalan utama bukan pada praktik downgrading itu sendiri, melainkan pada skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya. Jika hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, fenomena ini masih bisa dianggap wajar dan bersifat sementara. Namun, jika meluas hingga kelas menengah, yang selama ini menjadi motor konsumsi nasional, maka hal itu menjadi alarm bahaya bagi pemerintah. “Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.

img_title Ekonom UGM Soroti Tekanan Harga Pangan dan Makin Sempitnya Ruang Fiskal Negara

Wisnu mengidentifikasi dua faktor utama yang memperkuat fenomena downgrading. Pertama, pendapatan riil masyarakat yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi. Kondisi ini membuat kemampuan belanja riil menyusut meskipun pendapatan nominal tidak berubah. Kedua, ekspektasi ekonomi yang menurun. Masyarakat menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan terbatas, tetapi juga karena kekhawatiran terhadap masa depan, termasuk keamanan pekerjaan. “Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title