Ruang Drop-off di Jalan Dr Sardjito, Harmoni Taman dan Kampung Wisata
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Penataan ruang kota kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta. Kali ini, kawasan Jalan Dr. Sardjito di Terban ditata dengan menyesuaikan fungsi taman agar dapat menyediakan ruang drop-off kendaraan bagi tamu Kampung Wisata Cokrokusuman. Langkah ini diambil untuk mengurangi potensi kemacetan sekaligus menjaga kenyamanan lalu lintas di ruas jalan yang cukup padat aktivitas.
Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan, kebutuhan ruang berhenti kendaraan muncul karena selama ini tamu kampung wisata harus berhenti di badan jalan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelancaran arus lalu lintas. “Warga menginginkan ada tempat berhenti. Jadi sisi jalan dibuat cekungan agar kendaraan bisa menurunkan penumpang tanpa menghambat arus,” jelasnya.
Dengan adanya area khusus, kendaraan yang membawa tamu tidak lagi berhenti langsung di badan jalan. Penataan ini diharapkan mampu memberikan solusi praktis bagi pengunjung sekaligus menjaga keteraturan lalu lintas di kawasan tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menekankan bahwa penataan ini bukan alih fungsi taman. Sebagian taman hanya digeser untuk mengoptimalkan ruang. “Ini bukan menghilangkan taman, melainkan menata agar fungsinya lebih banyak,” ujarnya.
Kawasan Jalan Dr. Sardjito memang menjadi akses menuju Kampung Wisata Cokrodiningratan yang sering menerima kunjungan menggunakan kendaraan besar. Selama ini bus atau minibus yang mengantar tamu harus berhenti di pinggir jalan, sehingga arus lalu lintas terganggu. Dengan adanya ruang drop-off, tamu tetap bisa diturunkan dengan aman tanpa menimbulkan kemacetan.
Dalam penataan tersebut, taman di bagian tengah digeser sekitar tiga meter ke arah barat, sementara taman di sisi timur tetap dipertahankan. Dengan demikian, keberadaan taman tetap ada meski posisinya mengalami penyesuaian. Rajwan menegaskan bahwa area drop-off bukan untuk parkir, melainkan hanya tempat menurunkan atau menaikkan tamu. “Supaya taman tetap ada, tamu juga punya ruang drop-off, maka posisinya digeser. Penataan ini diharapkan bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat, kegiatan kampung wisata, dan kelancaran lalu lintas sekaligus,” katanya.
Pekerjaan penataan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua minggu. Area yang terdampak memiliki lebar sekitar 10 meter, dengan bagian taman yang digeser sekitar tiga meter. Penyesuaian ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat praktis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ruang kota dapat ditata secara fleksibel tanpa menghilangkan fungsi sosial dan ekologis taman.