Pemkot Yogya Tambah Dua RTH Publik di 2026
- Dok Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya menghadirkan ruang terbuka hijau (RTH) publik baru setiap tahun. Pada 2026, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dua lokasi akan dibangun sekaligus: Kampung Tegalgendu di Kotagede dan kawasan Nitikan.
Kepala Bidang RTH Publik DLH Kota Yogyakarta, Rina Aryati Nugraha, menjelaskan bahwa pembangunan di Tegalgendu akan mengusung konsep Taman Mentaok. Konsep ini dirancang untuk mengingatkan masyarakat bahwa Kotagede dahulu berawal dari hutan Mentaok. “Kita buat lebih modern, tetapi tetap ada unsur sejarah dan budaya Kotagede sehingga bisa menjadi sarana edukasi,” ujarnya, Kamis (08/01/2026).
Lahan seluas sekitar 800 meter persegi milik Pemkot Yogyakarta di Tegalgendu RW 11 Prenggan akan ditanami pohon Mentaok dan berbagai vegetasi lain. Fasilitas pendukung seperti pendopo dan gazebo juga akan dibangun agar masyarakat memiliki ruang berkegiatan. Selain itu, kawasan ini akan difungsikan sebagai tempat pengolahan sampah organik kering. Jalur pedestrian akan dilengkapi biopori memanjang agar luasan RTH tetap terjaga. Proyek ini menggunakan APBD Kota Yogyakarta dengan pagu anggaran sekitar Rp640 juta.
Sementara itu, pembangunan di Nitikan akan difokuskan pada Taman Lalu Lintas. Lahan seluas 1.700 meter persegi yang selama ini sudah dimanfaatkan warga sebagai RTH akan ditata ulang dengan anggaran Rp1,65 miliar dari APBD. Rina menyebut taman ini sekaligus menggantikan Taman Lalu Lintas di Terminal Giwangan yang akan ditata ulang. “Lokasinya lebih dekat dengan masyarakat dan sekolah-sekolah, sehingga bisa dimanfaatkan setiap hari,” jelasnya.
Pembangunan di Nitikan mencakup area Taman Lalu Lintas, pendopo, serta ruang terbuka hijau yang dapat diakses publik. Nantinya, taman ini akan dilengkapi petugas khusus agar fungsi edukasi lalu lintas bagi anak-anak berjalan optimal.
Rina menegaskan bahwa penambahan RTH publik bukan hanya soal ekologi, tetapi juga menyediakan ruang bermain anak-anak di tengah keterbatasan lahan perkotaan. “Anggaran awal di Tegalgendu diprioritaskan untuk pedestrian dan biopori, karena ini sekaligus berkontribusi menyelesaikan masalah sampah. Penataan lanjutan akan menyesuaikan kemampuan anggaran,” tambahnya.
Dengan dua proyek baru ini, Pemkot Yogyakarta berharap masyarakat memiliki lebih banyak ruang terbuka yang nyaman, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak-anak dan menjaga keseimbangan lingkungan kota.