Doa dan Harapan Mengalir di Usia ke-65 KGPAA Paku Alam X
- Humas Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Suasana khidmat menyelimuti Pura Pakualaman pada Rabu (07/1/2026). Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X genap berusia 65 tahun, dan peringatan tingalan wiyosan-dalem menjadi momentum penuh doa serta harapan dari masyarakat, tokoh budaya, hingga jajaran pemerintah daerah.
Tradisi tingalan wiyosan-dalem bukan sekadar perayaan pertambahan usia, melainkan ruang kebersamaan antara pemimpin dan rakyat. Sosok Paku Alam X yang dikenal teduh, bijaksana, dan dekat dengan masyarakat kembali mendapat doa keselamatan, kesehatan, serta kelancaran dalam mengemban amanah.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, hadir langsung dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bentuk penghormatan sekaligus mewakili warga Kota Yogyakarta. “Dengan bertambahnya usia ke-65 ini, kami berharap KGPAA Paku Alam X senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan. Semoga selalu diberi kemudahan serta kesuksesan dalam menjalankan peran dan pengabdian,” ujarnya.
Lebih jauh, Hasto menekankan pentingnya peran moral dan kultural Paku Alam dalam menjaga harmoni dan nilai-nilai luhur di tengah masyarakat. “Beliau adalah panutan. Kami berharap KGPAA Paku Alam X terus membersamai masyarakat DIY dengan keteladanan, kebijaksanaan, serta semangat pengabdian yang tulus,” tambahnya.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, bersama sang istri, juga menyampaikan doa terbaik. Ia berharap Paku Alam X senantiasa dianugerahi umur panjang, kebahagiaan, dan kesehatan. “Kami berharap beliau dapat terus mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab, ketulusan, dan kebijaksanaan,” kata Wawan.
Menurut Wawan, figur Paku Alam X bukan hanya bagian dari struktur pemerintahan daerah, tetapi juga simbol budaya dan penjaga kearifan lokal Yogyakarta. Keberlangsungan kepemimpinan yang sehat dan kuat, lanjutnya, menjadi harapan bersama masyarakat.
Peringatan tingalan wiyosan-dalem kali ini berlangsung penuh rasa syukur. Kehadiran keluarga besar Pakualaman, abdi dalem, tokoh masyarakat, dan pejabat daerah memperlihatkan eratnya hubungan antara pemimpin dan rakyat. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan di Yogyakarta tidak hanya berdiri di atas struktur formal, tetapi juga berakar pada budaya, rasa hormat, dan kebersamaan.