Hilirisasi Riset Kampus Tidak Bisa Instan, Perlu Penguatan SDM dan Kebutuhan Industri
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak Indonesia Maju 2045. Dalam pertemuan dengan 1.200 akademisi dan guru besar di Istana Negara, Kamis (15/01/2026), ia menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset kampus agar dapat dimanfaatkan industri nasional.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Pengembangan Usaha Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ir Sang Kompiang Wirawan menyebut masih ada tantangan besar dalam mewujudkan hilirisasi riset. Menurutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penyelarasan riset dengan kebutuhan industri menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diperkuat.
“Proses hilirisasi tidak bisa instan. Diperlukan analisis kebutuhan industri yang jelas agar inovasi benar-benar relevan dan berdampak,” ujarnya di kampus UGM, Jumat (23/01/2026).
UGM saat ini menjadi salah satu dari empat universitas yang dipercaya menjalankan program Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Park (PRIME STeP). Program pemerintah ini dirancang untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi sekaligus menjembatani hasil penelitian agar siap dikomersialisasikan.
Kompiang menjelaskan, PRIME STeP tidak hanya menyediakan pendanaan bagi dosen, tetapi juga mahasiswa dan alumni yang bekerja sama dengan industri maupun masyarakat. “Skema ini lebih komprehensif dibanding hibah riset biasa karena mencakup infrastruktur, peningkatan kapasitas SDM, hingga akselerasi produk menuju pasar,” jelasnya.
Kolaborasi dengan Industri
Keterlibatan industri disebut menjadi faktor kunci keberhasilan hilirisasi. Industri tidak hanya berperan sebagai pengguna hasil riset, tetapi juga mitra strategis, mentor, bahkan investor. “Kami membangun semangat socio entrepreneurship, mendorong riset kampus masuk ke industri sekaligus menjadikan persoalan industri sebagai sumber riset baru,” ungkap Kompiang.
Selain itu, ia menekankan perlunya membangun mental inventor agar terbiasa berinovasi, menerima masukan, dan berkomitmen pada hasil. Dalam tiga tahun terakhir, ratusan inovasi telah didanai, puluhan di antaranya masuk tahap adopsi industri melalui lisensi kekayaan intelektual maupun kemitraan produk.
Beberapa startup binaan PRIME STeP bergerak di bidang energi, material serat, alat laboratorium, hingga inovasi beras unggul yang kini masuk program nasional. Valuasi teknologi UGM yang sudah terhilirkan ke industri melalui lisensi kekayaan intelektual tercatat menembus lebih dari Rp 300 miliar.