Nyadran Kampung: Merawat Ingatan, Merayakan Kebersamaan
- Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARYA, VIVA Jogja - Ratusan warga berbaur dalam prosesi Nyadran, sebuah tradisi Jawa yang telah berakar puluhan tahun pada Minggu pagi, Kampung Bener dipenuhi warna dan suara. Dari arah Masjid Muqorrobin hingga Makam Sasono Ngasem. Kirab budaya membuka rangkaian acara: Punakawan berjalan di depan, diikuti Bregodo Rakyat, gunungan sayuran, apem, ketan, ingkung, hingga lantunan hadrah. Semua berpadu menjadi harmoni yang menghidupkan kembali ingatan kolektif kampung.
Tradisi yang Bangkit dari Kevakuman
Ketua panitia, Muryono, mengisahkan bahwa Nyadran di Kampung Bener pertama kali digelar pada 1977. Namun, perjalanan panjang itu sempat terhenti hampir 25 tahun karena para penggagasnya telah sepuh. Dukungan takmir masjid kemudian menjadi titik balik kebangkitan. Setelah sempat kembali vakum akibat pandemi, kini Nyadran hadir lebih meriah, lengkap dengan pawai budaya yang membuat warga semakin antusias. “Nyadran bukan sekadar ritual, tapi pengingat akan Sang Pencipta dan doa bagi leluhur,” ujarnya.
Tema tahun ini, Eling lan Waspodo, Donga Bareng, Paseduluran Langgeng, menegaskan makna kebersamaan. Doa bersama tidak hanya diikuti warga Muslim, tetapi juga dihadiri umat Katolik dan Kristen. Di bawah langit Tegalrejo, perbedaan melebur dalam satu ikatan: silaturahmi. “Semua rawuh, semua berbaur. Inilah wajah kerukunan Kampung Bener,” kata Muryono.
Di balik kemeriahan, ada kerja kolektif warga. Apem, ketan, dan kolak disiapkan bersama, lalu dinikmati usai doa. Sri Susilowati, salah satu warga, mengaku terkesan dengan konsep tahun ini yang lebih kaya unsur budaya. “Tidak monoton, ada kesenian, ada pawai. Harapan kami, tahun depan lebih baik lagi,” tuturnya. Ia berharap kesenian lokal seperti hadrah, jatilan, dan sanggar tari terus dilibatkan, agar tradisi ini menjadi ruang ekspresi budaya kampung.
Local Wisdom yang Terus Dihidupkan
Mantri Pamong Praja Tegalrejo, Antariksa Agus Purnama, menilai Nyadran bukan hanya ritual, tetapi local wisdom yang harus dijaga. “Di dalamnya ada pembelajaran dari generasi tua kepada generasi muda. Esensinya adalah doa bersama yang dikemas dalam silaturahmi,” katanya. Ia berharap keterlibatan anak muda semakin besar, agar suatu saat mereka bisa melanjutkan peran para sesepuh dengan cara yang relevan bagi zaman mereka.