Gunungkidul Diminta Tidak Mengekor Bali
- DOK UMY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Gunungkidul kembali menjadi sorotan publik setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan agar daerah tersebut tidak tumbuh dengan pola seperti Bali. Peringatan itu disampaikan dalam Pelantikan Pengurus Kadin Kabupaten/Kota se-DIY pada Minggu (15/02/2026) lalu, di tengah meningkatnya investasi dan promosi destinasi pantai selatan Yogyakarta.
Pernyataan Sultan ini memantik respons dari kalangan akademisi. Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sakir Ridho Wijaya, menilai bahwa pesan tersebut harus dimaknai sebagai peringatan strategis dalam mengelola potensi wisata Gunungkidul. Menurutnya, pembangunan pariwisata tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan cepat, tetapi harus berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal serta lingkungan.
“Ketika suatu daerah dikembangkan menjadi destinasi wisata, jangan hanya mengejar pertumbuhan yang cepat, tetapi rapuh dan tidak berkelanjutan. Apalagi jika pertumbuhan itu tidak berdampak positif terhadap masyarakat lokal dan lingkungan. Ini bukan soal antiinvestasi, melainkan memastikan pertumbuhan tetap terkendali dan memberi manfaat jangka panjang,” jelas Sakir saat ditemui di kampus UMY, Senin (23/02/2026).
Risiko Kehilangan Identitas Lokal
Sakir menekankan bahwa setiap daerah memiliki kekhasan yang tidak bisa disamakan dengan destinasi lain. Upaya menyeragamkan konsep wisata justru berisiko menghilangkan karakter asli suatu wilayah. Dalam konteks Gunungkidul, ia menyoroti pentingnya pengendalian tata ruang dan pengelolaan lingkungan, terutama terkait kawasan karst dan keterbatasan sumber daya air yang selama ini menjadi isu krusial.
“Destinasi wisata harus memiliki citra dan kekhasan tersendiri. Jangan sampai kehilangan kendali atas ruang. Jika diseragamkan, lalu di mana identitas lokalnya? Orang bisa bertanya, mengapa harus jauh-jauh ke Yogyakarta jika pengalaman yang didapat sama seperti di tempat lain,” ujarnya.
Menurut Sakir, menjaga identitas lokal menjadi kunci daya saing pariwisata Yogyakarta. Budaya yang masih kuat dan hidup di tengah masyarakat dinilai sebagai pembeda yang tidak dimiliki semua daerah wisata. Karena itu, perlindungan lingkungan dan budaya harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan investasi.
“Identitas lokal itu sangat penting karena menjadi pembeda utama. Perlindungan lingkungan dan budaya harus menjadi prasyarat investasi, bukan dianggap sebagai penghambat. Pemerintah daerah perlu menetapkan batas-batas yang jelas, mana yang dapat dikembangkan dan mana yang harus dilindungi,” tegasnya.
Dengan status keistimewaan yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pembangunan pariwisata harus tetap selaras dengan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat. Sakir menilai, Gunungkidul memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi unggulan, tetapi harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam pola pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan.
Dalam kerangka pariwisata berkelanjutan, Sakir menyebut terdapat tiga aspek utama yang perlu diperkuat, yakni lingkungan, ekonomi, dan kelembagaan. Ia menilai Gunungkidul perlu terlebih dahulu memperjelas identitas pariwisata yang ingin dibangun sebelum membuka ruang investasi secara lebih luas.
“Yang pertama harus dikunci adalah identitas lokal pariwisata Gunungkidul. Itu menjadi syarat utama. Selain itu, ekonomi berkelanjutan juga harus dipastikan. Masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus benar-benar menikmati manfaat dari potensi wisata alam yang dimiliki,” pungkasnya.
Pernyataan Sultan dan pandangan akademisi ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk menata arah pembangunan pariwisata Gunungkidul. Dengan kekayaan alam berupa pantai, gua, dan bentang karst yang unik, Gunungkidul memiliki modal besar untuk berkembang. Namun, tanpa pengelolaan yang hati-hati, potensi tersebut bisa berubah menjadi beban lingkungan dan sosial.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara investasi, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Jika ketiga aspek tersebut dapat berjalan beriringan, Gunungkidul bukan hanya akan menjadi destinasi wisata populer, tetapi juga contoh nyata pariwisata berkelanjutan yang memberi manfaat jangka panjang bagi daerah dan masyarakatnya.