Lebih dari 43 Ribu Wisatawan Padati Kulonprogo Saat Libur Lebaran 2026
- Istimewa
KULONPROGO, VIVA Jogja – Libur Lebaran 2026 menjadi momentum penting bagi sektor pariwisata Kabupaten Kulonprogo. Selama tiga hari pertama setelah Idulfitri, tercatat sebanyak 43.275 wisatawan mengunjungi destinasi wisata yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo. Angka ini menunjukkan tren positif dengan kenaikan signifikan dibandingkan periode Lebaran tahun sebelumnya, sekaligus menegaskan posisi Kulonprogo sebagai salah satu tujuan wisata utama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Arus wisatawan mulai terlihat sejak H+1 Lebaran, Minggu (22/3/2026), dengan jumlah 12.340 pengunjung. Angka tersebut meningkat pada H+2, Senin (23/3/2026), menjadi 15.802 orang, dan sedikit menurun pada H+3, Selasa (24/3/2026), dengan 15.482 wisatawan. Total akumulasi mencapai 43.275 orang hanya dalam kurun tiga hari. Data ini hanya mencakup destinasi yang dikelola Pemkab, sehingga jumlah sebenarnya bisa lebih tinggi jika ditambahkan kunjungan ke desa wisata maupun destinasi swasta.
Pantai Glagah dan Pantai Congot di Kapanewon Temon masih menjadi magnet utama. Kedua pantai ini dikenal sebagai ikon wisata pesisir Kulonprogo dengan daya tarik berupa hamparan pasir luas, laguna, serta fasilitas wisata yang terus dikembangkan. Selain itu, destinasi di kawasan Pegunungan Menoreh juga mulai menunjukkan peningkatan kunjungan, meski belum setinggi pantai selatan. Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Sutarman, menyatakan optimisme bahwa target 100 ribu wisatawan selama libur Lebaran tahun ini dapat tercapai. “Masa libur masih berlangsung hingga akhir pekan. Dengan tren kenaikan harian yang mencapai 30 persen dibanding tahun lalu, kami yakin angka 100 ribu bisa dilewati,” ujarnya.
Meski kunjungan wisata meningkat, sektor perhotelan belum sepenuhnya merasakan dampak positif. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulonprogo, Sumantoyo, mengungkapkan pihaknya tidak berani memasang target okupansi tinggi. Menurutnya, jalur mudik selatan relatif sepi karena adanya tol fungsional di Kalasan, Sleman. Banyak pemudik memilih jalur utara sehingga arus kendaraan ke Kulonprogo berkurang. Kondisi ini membuat hotel dan restoran di Kulonprogo hanya mengandalkan wisatawan lokal maupun rombongan keluarga yang memang menjadikan pantai selatan sebagai tujuan utama. “Lebaran kali ini kami jalani apa adanya, tanpa target muluk,” katanya.
Lonjakan wisatawan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar destinasi. Pedagang kaki lima, penyedia jasa parkir, hingga pengelola wahana wisata merasakan peningkatan pendapatan. Di Pantai Glagah, misalnya, omzet pedagang makanan meningkat hingga 40 persen dibanding hari biasa. Sementara di desa wisata, homestay dan paket wisata edukasi mulai diminati rombongan keluarga. Namun, peningkatan kunjungan juga menimbulkan tantangan. Kemacetan di jalur menuju pantai, keterbatasan lahan parkir, serta masalah kebersihan menjadi perhatian utama. Dispar Kulonprogo mengaku telah menyiapkan tim khusus untuk menjaga kenyamanan wisatawan, termasuk menambah petugas kebersihan dan memperbaiki fasilitas umum.