Pendidikan Khas Kejogjaan: Menyemai Generasi Berkarakter di Era Digital

Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X
Sumber :
  • Dok Pemda DIY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) oleh Pemerintah Daerah DIY menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan berbasis budaya di Bumi Mataram. Program ini tidak sekadar menghadirkan kurikulum baru, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang berupaya membentuk manusia utuh, matang secara batiniah, dan luhur dalam perilaku. Di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi, PKJ hadir sebagai benteng untuk menjaga jati diri generasi muda agar tetap berpijak pada akar budaya.

img_title Menkeu Purbaya dan Sri Sultan HB X Resmikan Becak Listrik Wisata di Alun-alun Selatan Yogyakarta

Dalam acara Byawara dan Launching PKJ di SMA 6 Yogyakarta, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata. Menurutnya, kecerdasan intelektual tanpa kedewasaan nilai berisiko membuat manusia kehilangan arah. “Ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Tanpa itu, manusia bisa tercerabut dari budayanya sendiri,” ujar Sri Sultan.

PKJ digagas sebagai gerakan yang berlandaskan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, sebuah pandangan hidup yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui falsafah ini, pendidikan diharapkan melahirkan generasi dengan jiwa satriya: sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh. Sri Sultan menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses pembudayaan, bukan sekadar pengajaran. Ia harus menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup.

img_title Sri Sultan Dorong Efisiensi dan Keselamatan dalam Pembangunan Gedung Baru DPRD DIY

Karakter yang diusung PKJ diyakini akan melahirkan pribadi karyenak tyasing sasama, yakni sosok yang mampu menghadirkan ketenteraman bagi sesama. Dengan demikian, kemajuan intelektual tidak akan terlepas dari kepekaan sosial. Namun, Sri Sultan mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada guru. Ia menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta ekosistem Kraton, Kampus, dan Kampung sebagai ruang tumbuhnya karakter generasi.

Peluncuran PKJ menjadi penanda bahwa gagasan ini telah beranjak dari wacana menuju implementasi nyata. Sri Sultan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menghidupkan nilai-nilai budaya dalam keseharian, bukan sekadar menjadikannya teori. “Ngèlmu iku kalakoné kanthi laku,” tegasnya, mengingatkan bahwa ilmu sejati hanya bermakna jika diwujudkan dalam tindakan.

img_title Madrasah di Kulonprogo Kian Diminati, Jadi Pilihan Utama Pendidikan Masyarakat

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Muhammad Setiadi, melaporkan bahwa implementasi PKJ menunjukkan hasil positif. Evaluasi awal mencatat indeks karakter peserta didik dengan skor 4,1 dari skala 5. Capaian ini merupakan buah dari proses panjang yang dimulai sejak 2019, terinspirasi dari pidato ilmiah Sri Sultan saat menerima gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Negeri Yogyakarta.

Halaman Selanjutnya
img_title