Ketahanan Pangan Daging Sapi: Momentum Perkuat Populasi Nasional

Harga sapi impor melonjak
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menimbulkan dampak nyata bagi sektor pangan hewani Indonesia. Harga sapi impor dari Australia melonjak tajam, dipicu oleh kenaikan harga di negara asal sejak akhir 2025 akibat persaingan ekspor yang semakin ketat serta ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini menjadi alarm bagi ketahanan pangan nasional, khususnya komoditas daging sapi. Meski kenaikan harga sapi impor memberi keuntungan bagi peternak lokal karena harga sapi domestik ikut terdorong naik, ketergantungan terhadap impor tetap membuat pasar daging sapi Indonesia rentan terhadap gejolak eksternal.

img_title UGM Lestarikan Plasma Nutfah Sapi Jawa Lewat Smart Farming dan Kolaborasi Internasional

Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof Ir Panjono menilai kenaikan harga sapi impor memang memberi keuntungan jangka pendek bagi peternak lokal. Namun, dari perspektif ketahanan pangan, kondisi ini justru menunjukkan rapuhnya fondasi pasokan daging sapi Indonesia. Jika harga impor terus tinggi, volume impor berpotensi menurun. Akibatnya, pemotongan sapi lokal akan meningkat untuk menutup kebutuhan pasar. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menggerus populasi sapi nasional dan menimbulkan kelangkaan.

Pemerintah sendiri menargetkan populasi sapi nasional mencapai 19,9 juta ekor pada 2026. Namun, data menunjukkan populasi pada 2025 baru sekitar 13,5 juta ekor. Selisih lebih dari enam juta ekor menjadi tantangan besar yang membutuhkan langkah luar biasa. Panjono menekankan perlunya percepatan program pembiakan, peningkatan produktivitas indukan, serta pengendalian pemotongan ternak produktif. Tanpa strategi yang jelas, target populasi akan sulit dicapai, terlebih jika pemotongan sapi lokal terus meningkat akibat menurunnya impor.

img_title Kulonprogo Pastikan Surplus Sapi Kurban dengan Skrining Berlapis

Selain itu, fluktuasi kurs rupiah yang tajam membuat pelaku usaha sapi potong kesulitan menghitung biaya pembelian, harga jual, dan proyeksi keuntungan. Menurut Panjono, kestabilan nilai tukar lebih penting daripada sekadar penurunan kurs. Dengan kurs yang stabil, pelaku usaha dapat menyusun perencanaan bisnis secara lebih akurat dan mengurangi risiko kerugian akibat perubahan harga mendadak.

Menghadapi tingginya harga sapi impor, Panjono menilai pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan satu kebijakan tunggal. Strategi bertahap diperlukan agar pasokan daging tetap terjaga sekaligus memperkuat populasi sapi nasional. Dalam jangka pendek, impor sapi bakalan maupun daging sapi masih dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan menahan lonjakan harga. Di sisi lain, masyarakat perlu didorong untuk memanfaatkan sumber protein alternatif seperti ayam, telur, ikan, dan tempe guna mengurangi tekanan permintaan terhadap daging sapi.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title FKH UGM Terima Bantuan 40 Sapi untuk Kembangkan Veterinary Teaching Farm