UGM Lestarikan Plasma Nutfah Sapi Jawa Lewat Smart Farming dan Kolaborasi Internasional
- Istimewa
SLEMAN, VIVA Jogja – Mengantisipasi hilangnya populasi Sapi Jawa, Universitas Gadjah Mada (UGM) melestarikan plasma nutfah sapi lokal, khususnya Sapi Peranakan Ongole (PO), sapi putih khas Indonesia yang terancam oleh masifnya persilangan dengan sapi impor. Meski sapi PO memiliki keunggulan adaptif terhadap lingkungan tropis dan mudah berkembang biak, persilangan sapi impor dimungkinkan akan mengancam sapo PO.
Meski ukuran tubuhnya relatif kecil dibandingkan sapi hasil persilangan, sapi PO tetap dianggap sebagai aset genetik penting yang harus dijaga keberadaannya.
Guru Besar Departemen Reproduksi dan Kebidanan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof drh Agung Budiyanto, menegaskan bahwa sapi PO merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang memiliki nilai strategis. “Sapi putih ini sangat adaptif, gampang bunting. Cuma kelemahannya ukurannya kecil,” ujarnya saat kegiatan pengabdian masyarakat berbasis riset aplikatif di Dusun Bolu, Kalurahan Margokaton, Kecamatan Seyegan, Sleman.
Dalam program tersebut, FKH UGM menggandeng kelompok ternak Mergo Andhini Makmur untuk melaksanakan penyelamatan plasma nutfah sapi PO berbasis smart farm. Teknologi yang diterapkan meliputi reproduksi, nutrifikasi, kesehatan hewan, serta digitalisasi informasi. Program ini diharapkan mampu meningkatkan populasi dan produktivitas sapi PO, sekaligus mendukung swasembada daging nasional dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan kedua, yaitu tanpa kelaparan (Zero Hunger).
Agung menjelaskan bahwa langkah-langkah yang ditempuh mencakup penyediaan pakan berkualitas, sinkronisasi estrus, inseminasi buatan, hingga transfer embrio. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan populasi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas peternak dalam mengelola reproduksi, kesehatan, dan nutrisi ternak secara modern. Kelompok Mergo Andhini Makmur dipilih sebagai mitra karena rekam jejak kerja sama yang baik dengan FKH UGM serta komitmen tinggi anggotanya untuk berkembang. Kawasan ternak ini juga sering menjadi lokasi praktikum mahasiswa dan program pengabdian fakultas.
“Kami memilih Mergo Andhini Makmur karena mereka sangat kooperatif. Kami juga sudah memiliki sejarah kerja sama yang panjang dengan kelompok ini. Peternaknya terbuka terhadap inovasi dan mudah diajak berkembang bersama,” tambah Agung.