Keripik Tempe Sari dari Pundong Menembus Pasar Nasional

Keripik tempe asal Bantul
Sumber :
  • Pemkab Bantul

BANTUL, VIVA Jogja - Supriyanto, seorang warga Pundong, Bantul, berhasil membuktikan bahwa usaha kecil yang berawal dari coba-coba dapat berkembang hingga menembus pasar luar kota. Bersama sang istri, ia merintis usaha keripik tempe dari rumah mereka di Piring RT 03, Srihardono, Pundong, dengan brand Keripik Tempe Sari. Nama tersebut diambil dari kampung halaman istrinya di Wonosari, sebagai bentuk penghormatan terhadap akar keluarga.

img_title Jalur Jeep Wisata Akan Dipindah, Upaya Selamatkan Gumuk Pasir Parangtritis Mulai Dipercepat

Sebelum fokus pada usaha, Supriyanto sempat bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Ide membuat keripik tempe muncul secara tidak sengaja ketika ia berkunjung ke rumah seorang teman dan mencicipi camilan tersebut. Dari pengalaman sederhana itu, ia mulai mencoba membuat keripik tempe sendiri. Bersama istrinya, ia memulai produksi dengan lima papan tempe, lalu hasilnya ditawarkan kepada tetangga sekitar. Respon positif dari tetangga menjadi dorongan besar untuk melanjutkan usaha.

Awalnya, Supriyanto hanya menitipkan sekitar 10 hingga 15 bungkus keripik ke warung-warung kecil. Tak disangka, produk tersebut habis dalam beberapa hari. Dari situ, ia semakin yakin bahwa keripik tempe buatannya memiliki peluang besar di pasaran. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga kualitas bahan baku tempe. Tidak semua tempe memiliki tekstur padat yang sesuai untuk diolah menjadi keripik. Jika kualitas tempe kurang baik, hasil keripik bisa berwarna lebih gelap meski rasanya tetap enak.

img_title Sarkem Fest 2026 : Paduan Wisata, Kuliner, dan Seni Semarakkan HUT Kota Yogya

Dalam proses produksi, peran sang istri sangat besar, terutama dalam meracik bumbu dan memasak. Mereka belajar secara mandiri, bahkan memanfaatkan video di YouTube untuk mengembangkan cita rasa produk. Meski belum memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, pemasaran Keripik Tempe Sari berkembang pesat melalui metode sederhana dari mulut ke mulut. Permintaan datang tidak hanya dari sekitar Bantul, tetapi juga dari Semarang dan Jakarta. Beberapa pelanggan di luar kota bahkan rutin memesan dalam jumlah besar setiap beberapa bulan.

Usaha ini mulai dirintis sejak 2017. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda, Supriyanto memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan fokus penuh mengembangkan usaha bersama sang istri. Keputusan itu menjadi titik balik yang memperkuat komitmen mereka dalam membangun bisnis keluarga. Meski menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menjaga kualitas produksi dan memenuhi permintaan yang semakin meningkat, Supriyanto tetap optimis.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Jogja Perkuat Ekonomi Daerah Lewat Expo Bisnis, Dorong UMKM Tembus Pasar Nasional hingga Global