Api Misterius di Seyegan: Fenomena Kebakaran Berulang yang Bikin Warga Resah
- Bing Image Creator
SLEMAN, VIVA Jogja - Fenomena kebakaran misterius di rumah Agus Yani, warga Kasuran, Seyegan, Sleman, kembali menimbulkan kehebohan setelah lebih dari 40 kali titik api muncul dalam kurun waktu sepekan. Peristiwa ini bukan hanya mengundang rasa penasaran, tetapi juga memunculkan keresahan mendalam di tengah masyarakat. Meski septic tank yang semula diduga sebagai sumber gas metana telah dikuras, api tetap muncul secara acak dan membuat warga bersama aparat harus berjaga tanpa henti.
Peristiwa terbaru terjadi pada Kamis, 28 Mei 2026, sekitar pukul 14.50 WIB. Api tiba-tiba membakar helm dan styrofoam yang berada di atas akuarium ruang depan rumah Agus Yani. Putrinya, H. Mutfiana, menjelaskan bahwa api muncul begitu saja, sama seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Meski berhasil dipadamkan, keluarga tetap diliputi rasa cemas karena khawatir titik api lain akan kembali muncul sewaktu-waktu. Sejak pertama kali terjadi pada Jumat malam, 22 Mei 2026, api sudah muncul lebih dari 40 kali di berbagai titik rumah, mulai dari kasur, sofa, boneka anak, gulungan tikar, hingga pipa saluran air yang sempat meleleh meski masih dialiri air. Kejadian berulang ini membuat rumah Agus Yani seolah menjadi pusat perhatian sekaligus lokasi rawan bencana.
Tim Gegana Polda DIY menduga kebakaran dipicu oleh gas metana yang berasal dari septic tank. Namun, meski septic tank sudah dikuras pada Minggu, 24 Mei 2026, api tetap muncul. Dugaan pun berkembang, kemungkinan ada rembesan gas dari saluran lain atau faktor geologi yang belum teridentifikasi. BPBD Sleman kini berkoordinasi dengan Basarnas, Pertamina, serta ahli geologi dari UGM dan UPN untuk melacak kemungkinan adanya sumber gas alam lain di bawah permukiman warga. Penelusuran ini penting untuk memastikan apakah fenomena kebakaran berulang tersebut murni akibat faktor alam atau ada penyebab lain yang lebih kompleks.
Situasi ini membuat keluarga Agus Yani dan warga sekitar harus berjaga sepanjang malam. Relawan dan aparat melakukan patroli setiap 15 hingga 30 menit untuk memastikan tidak ada api baru yang muncul. Barang-barang mudah terbakar sudah dievakuasi, sementara ember berisi handuk basah dan alat pemadam api ringan disiapkan sebagai langkah antisipasi. Polisi, pemadam kebakaran, hingga tim Gegana terus melakukan pengawasan di lokasi. Kehadiran aparat dan relawan menjadi penopang utama bagi keluarga yang kini hidup dalam ketidakpastian, menunggu jawaban pasti atas fenomena yang mereka alami.