Metileugenol pada Herbal Berbahan Daun Cengkeh Disorot, Berisiko Picu Kanker
- By Gemini ai based on teks
JAKARTA, VIVA Jogja - Kandungan daun cengkeh dalam produk obat herbal kembali menjadi perhatian dunia kesehatan.
Sorotan muncul setelah sejumlah kajian toksikologi internasional membahas risiko senyawa metileugenol.
Senyawa tersebut diketahui berkaitan dengan ekstrak tanaman rempah, termasuk daun cengkeh.
Meski berasal dari bahan alami, para ahli mengingatkan tidak semua senyawa herbal sepenuhnya bebas risiko.
Daun cengkeh sendiri mengandung eugenol yang umum ditemukan dalam minyak cengkeh.
Eugenol selama ini banyak dimanfaatkan dalam produk kesehatan dan pangan.
Namun perhatian ilmiah lebih banyak tertuju pada metileugenol yang merupakan senyawa berbeda.
Dalam berbagai penelitian toksikologi internasional, metileugenol disebut memiliki potensi memicu kanker.
Meski demikian, keberadaan daun cengkeh dalam produk herbal tidak otomatis membahayakan manusia.
Para peneliti menegaskan pentingnya membedakan antara potensi bahaya dan risiko nyata penggunaan.
Risiko kesehatan ditentukan oleh dosis, frekuensi konsumsi, dan tingkat paparan senyawa.
Di Amerika Serikat, metileugenol masuk pengawasan melalui aturan pelabelan Proposition 65 California.
Aturan tersebut mewajibkan peringatan pada produk yang mengandung zat berpotensi memicu gangguan kesehatan.
Sementara itu, eugenol tidak termasuk dalam daftar Prop65 California.
Meski demikian, penggunaan eugenol tetap memperhatikan batas aman paparan terhadap manusia.
Badan Internasional untuk Riset Kanker atau IARC pada 14 Juli 2023 mengklasifikasikan metileugenol sebagai senyawa yang “kemungkinan besar dapat menyebabkan kanker pada manusia”.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada penelitian hewan percobaan dan mekanisme biologis laboratorium.
Program Toksikologi Nasional Amerika Serikat atau NTP juga mengeluarkan laporan serupa.
Dalam laporan 21 Desember 2021, NTP menyebut metileugenol diduga dapat menyebabkan kanker pada manusia.
Pernyataan itu didasarkan pada bukti cukup dari penelitian terhadap hewan percobaan.
Namun para ilmuwan mengingatkan hasil penelitian tersebut tidak dapat disimpulkan secara mentah terhadap manusia.
Faktor kadar senyawa menjadi penentu utama tingkat risiko kesehatan.
Frekuensi konsumsi juga memengaruhi tingkat paparan tubuh terhadap senyawa tersebut.
Artikel ilmiah dalam jurnal Environmental Health Perspectives pada 12 Juni 2006 memberi konteks tambahan.
Penelitian itu menyebut kadar metileugenol pada manusia masih jauh di bawah dosis hewan percobaan.