Hadapi Cuaca Ekstrem, Sleman Perkuat Kampung Iklim demi Air dan Pertanian

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Junaidi, bahas kampung iklim
Sumber :
  • ist

SLEMAN, VIVA Jogja – Perubahan iklim kini bukan lagi ancaman masa depan karena dampaknya telah dirasakan langsung oleh masyarakat Kabupaten Sleman.

img_title Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, BPPTKG Catat Puluhan Guguran Lava dalam Tiga Hari Terakhir

Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat musim tanam bergeser, ancaman kekeringan meningkat, hingga risiko gangguan kesehatan semakin besar.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat Program Kampung Iklim (Proklim) sebagai strategi adaptasi berbasis masyarakat.

img_title Sleman Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Junaidi, mengatakan perubahan iklim telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Menurutnya, sektor kesehatan, ketersediaan air bersih, hingga pertanian menjadi bidang yang paling terdampak.

img_title Tongkang Batu Bara Terdampar dan Mulai Tenggelam, KAWALI Minta Semua Dugaan Diusut

"Di sisi kesehatan, panas atau cuaca yang tidak menentu memengaruhi kesehatan masyarakat," kata Junaidi.

"Kemudian pada sisi ketersediaan air dan pertanian juga terdampak."

"Sekarang musimnya sudah tidak menentu sehingga petani sering bingung menentukan waktu tanam," lanjutnya.

Ia mencontohkan fenomena kemarau basah yang belakangan sering terjadi di Sleman.

Pada periode yang seharusnya memasuki musim kemarau, hujan justru masih turun dengan intensitas cukup tinggi.

Kondisi tersebut membuat pola tanam petani menjadi tidak lagi memiliki kepastian.

Junaidi menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya menghadapi perubahan iklim, melainkan membangun kembali kesadaran masyarakat untuk menghijaukan lingkungan.

Menurutnya, masih terjadi paradoks ketika cuaca ekstrem justru memicu masyarakat menebang pohon.

"Sering ada bencana angin kencang dan banyak pohon tumbang."

"Namun yang terjadi justru masyarakat beramai-ramai menebang pohon."

"Memang ada alasan di sisi keselamatan, tetapi tugas kami adalah mengedukasi warga agar tetap mencintai dan menanam pohon," ujarnya.

Karena itu, DLH Sleman kembali menghidupkan berbagai program penghijauan.

Salah satunya adalah mendorong kembali gerakan menanam pohon bagi pasangan yang baru menikah melalui kerja sama dengan Kantor Urusan Agama.

Selain penghijauan, pemerintah terus memperluas Program Kampung Iklim sebagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat komunitas.

Junaidi menjelaskan Proklim tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.

Program tersebut juga berfokus membangun perilaku masyarakat melalui pembinaan, sosialisasi, dan pelatihan.

"Program Kampung Iklim itu berbasis komunitas sehingga dibentuk kelompok masyarakat untuk meminimalisasi dampak perubahan iklim," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title