Hadapi Cuaca Ekstrem, Sleman Perkuat Kampung Iklim demi Air dan Pertanian
- ist
"Yang dikerjakan tidak hanya sisi fisiknya, tetapi juga manusianya melalui pembinaan dan pelatihan."
Salah satu kegiatan utama dalam Proklim ialah pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Menurut Junaidi, pengelolaan sampah yang baik dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.
"Kalau sampah organik ditumpuk dalam jumlah besar akan menghasilkan gas metana."
"Itu salah satu gas rumah kaca yang berpengaruh terhadap pemanasan global," katanya.
Program tersebut juga mendorong penanaman pohon di pekarangan rumah maupun lingkungan permukiman.
Manfaat Proklim, lanjut Junaidi, tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan.
Program tersebut juga mampu mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat melalui bank sampah.
Semangat gotong royong warga pun ikut meningkat seiring berkembangnya aktivitas komunitas.
Keberhasilan Proklim memang tidak selalu mudah diukur melalui angka.
Namun perubahan kualitas lingkungan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
"Kalau masuk ke kampung yang menjalankan Program Kampung Iklim biasanya terasa lebih sejuk," ujarnya.
"Selain itu sumber air lokal seperti sumur warga juga relatif lebih terjaga sehingga jarang mengalami kekeringan."
Sejak mulai dijalankan pada 2012, Proklim di Sleman terus menunjukkan perkembangan.
Hingga kini sekitar 70 kampung telah mengikuti program tersebut.
Sebanyak 33 kampung telah masuk dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim.
Lima kampung berhasil meraih Trofi Proklim Utama dari pemerintah pusat.
Sekitar 13 kampung memperoleh Sertifikat Utama.
Sementara kampung lainnya meraih Sertifikat Madya.
"Kunci keberhasilan program ini adalah peran serta masyarakat," tegas Junaidi.
"Program pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kepedulian warga karena merekalah yang akan menikmati manfaatnya secara langsung."
Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Sleman, Untung Basuki Rahmad, menilai perubahan iklim telah mengubah wajah Kabupaten Sleman.
Menurutnya, wilayah yang dahulu dikenal sejuk dengan sumber air melimpah kini mulai kehilangan karakter tersebut.
"Dulu Sleman sejuk dan airnya banyak."
"Sekarang tidak lagi karena efek rumah kaca."
"Ketika pembangunan berlangsung, banyak pohon ditebang tanpa ada upaya yang cukup untuk menggantinya," katanya.
Ia menilai setiap pembangunan, terutama kawasan perumahan, wajib memperhatikan aspek penghijauan dan konservasi air.