Hadapi Cuaca Ekstrem, Sleman Perkuat Kampung Iklim demi Air dan Pertanian
- ist
SLEMAN, VIVA Jogja – Perubahan iklim kini bukan lagi ancaman masa depan karena dampaknya telah dirasakan langsung oleh masyarakat Kabupaten Sleman.
Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat musim tanam bergeser, ancaman kekeringan meningkat, hingga risiko gangguan kesehatan semakin besar.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat Program Kampung Iklim (Proklim) sebagai strategi adaptasi berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Junaidi, mengatakan perubahan iklim telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Menurutnya, sektor kesehatan, ketersediaan air bersih, hingga pertanian menjadi bidang yang paling terdampak.
"Di sisi kesehatan, panas atau cuaca yang tidak menentu memengaruhi kesehatan masyarakat," kata Junaidi.
"Kemudian pada sisi ketersediaan air dan pertanian juga terdampak."
"Sekarang musimnya sudah tidak menentu sehingga petani sering bingung menentukan waktu tanam," lanjutnya.
Ia mencontohkan fenomena kemarau basah yang belakangan sering terjadi di Sleman.
Pada periode yang seharusnya memasuki musim kemarau, hujan justru masih turun dengan intensitas cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat pola tanam petani menjadi tidak lagi memiliki kepastian.
Junaidi menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya menghadapi perubahan iklim, melainkan membangun kembali kesadaran masyarakat untuk menghijaukan lingkungan.
Menurutnya, masih terjadi paradoks ketika cuaca ekstrem justru memicu masyarakat menebang pohon.
"Sering ada bencana angin kencang dan banyak pohon tumbang."
"Namun yang terjadi justru masyarakat beramai-ramai menebang pohon."
"Memang ada alasan di sisi keselamatan, tetapi tugas kami adalah mengedukasi warga agar tetap mencintai dan menanam pohon," ujarnya.
Karena itu, DLH Sleman kembali menghidupkan berbagai program penghijauan.
Salah satunya adalah mendorong kembali gerakan menanam pohon bagi pasangan yang baru menikah melalui kerja sama dengan Kantor Urusan Agama.
Selain penghijauan, pemerintah terus memperluas Program Kampung Iklim sebagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat komunitas.
Junaidi menjelaskan Proklim tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.
Program tersebut juga berfokus membangun perilaku masyarakat melalui pembinaan, sosialisasi, dan pelatihan.
"Program Kampung Iklim itu berbasis komunitas sehingga dibentuk kelompok masyarakat untuk meminimalisasi dampak perubahan iklim," jelasnya.
"Yang dikerjakan tidak hanya sisi fisiknya, tetapi juga manusianya melalui pembinaan dan pelatihan."
Salah satu kegiatan utama dalam Proklim ialah pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Menurut Junaidi, pengelolaan sampah yang baik dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.
"Kalau sampah organik ditumpuk dalam jumlah besar akan menghasilkan gas metana."
"Itu salah satu gas rumah kaca yang berpengaruh terhadap pemanasan global," katanya.
Program tersebut juga mendorong penanaman pohon di pekarangan rumah maupun lingkungan permukiman.
Manfaat Proklim, lanjut Junaidi, tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan.
Program tersebut juga mampu mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat melalui bank sampah.
Semangat gotong royong warga pun ikut meningkat seiring berkembangnya aktivitas komunitas.
Keberhasilan Proklim memang tidak selalu mudah diukur melalui angka.
Namun perubahan kualitas lingkungan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
"Kalau masuk ke kampung yang menjalankan Program Kampung Iklim biasanya terasa lebih sejuk," ujarnya.
"Selain itu sumber air lokal seperti sumur warga juga relatif lebih terjaga sehingga jarang mengalami kekeringan."
Sejak mulai dijalankan pada 2012, Proklim di Sleman terus menunjukkan perkembangan.
Hingga kini sekitar 70 kampung telah mengikuti program tersebut.
Sebanyak 33 kampung telah masuk dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim.
Lima kampung berhasil meraih Trofi Proklim Utama dari pemerintah pusat.
Sekitar 13 kampung memperoleh Sertifikat Utama.
Sementara kampung lainnya meraih Sertifikat Madya.
"Kunci keberhasilan program ini adalah peran serta masyarakat," tegas Junaidi.
"Program pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kepedulian warga karena merekalah yang akan menikmati manfaatnya secara langsung."
Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Sleman, Untung Basuki Rahmad, menilai perubahan iklim telah mengubah wajah Kabupaten Sleman.
Menurutnya, wilayah yang dahulu dikenal sejuk dengan sumber air melimpah kini mulai kehilangan karakter tersebut.
"Dulu Sleman sejuk dan airnya banyak."
"Sekarang tidak lagi karena efek rumah kaca."
"Ketika pembangunan berlangsung, banyak pohon ditebang tanpa ada upaya yang cukup untuk menggantinya," katanya.
Ia menilai setiap pembangunan, terutama kawasan perumahan, wajib memperhatikan aspek penghijauan dan konservasi air.
Pohon, menurutnya, memiliki fungsi penting sebagai penyimpan cadangan air tanah sekaligus penyeimbang lingkungan.
Untung juga mendorong DLH memperbanyak penanaman pohon perindang di kawasan perkotaan dan sepanjang jalan.
Namun, jenis pohon yang dipilih harus sesuai agar tidak merusak infrastruktur.
Selain penghijauan, ia meminta pemerintah terus menjaga kelestarian sungai agar tetap menjadi sumber kehidupan.
Ia mengingatkan sungai tidak boleh berubah menjadi tempat pembuangan sampah.
Saat ini telah terbentuk 18 kelompok pemerhati sungai di Kabupaten Sleman.
Kelompok tersebut diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kualitas lingkungan.
Untung menilai kawasan sepanjang Jalan Kaliurang hingga wilayah Sleman bagian tengah memiliki potensi sumber air yang sangat besar.
Wilayah tersebut merupakan jalur resapan air yang berasal dari lereng Gunung Merapi.
Karena itu, pembangunan di kawasan tersebut harus dikendalikan agar daya resap air tetap terjaga.
"Yang paling utama adalah kerja sama dan koordinasi semua pihak," ujarnya.
"DPRD menekankan pentingnya kemitraan agar upaya menjaga lingkungan dan menghadapi perubahan iklim bisa berjalan efektif."