Lulusan Perguruan Tinggi Dituntut Siap Hadapi Era AI dengan Kompetensi dan Pengalaman Kerja
- Bing Image Creator
SLEMAN, VIVA Jogja – Perubahan besar dalam dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan artifisial (AI), digitalisasi, transisi energi hijau, serta pergeseran demografi menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA sekaligus Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker, Prof. Drs. Anwar Sanusi, M.P.A., Ph.D., dalam sesi talkshow pembekalan ribuan calon wisudawan Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV 2026 di Grha Sabha Pramana UGM.
Anwar menegaskan bahwa dunia kerja kini mengalami disrupsi besar. Berdasarkan data, jumlah penduduk bekerja di Indonesia mencapai 147 juta orang, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,68 persen atau sekitar 7,4 juta orang. Ia menyebut lulusan SMA dan SMK masih menjadi penyumbang terbesar pengangguran, disusul lulusan perguruan tinggi. Meski demikian, tingkat pendidikan tetap berkorelasi dengan tingkat upah, di mana semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula penghasilan yang diterima.
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang mendorong perubahan dunia kerja saat ini, yakni disrupsi AI dan digitalisasi, transisi energi hijau, serta perubahan demografi yang memunculkan care economy. Perubahan ini akan menghilangkan sejumlah pekerjaan, tetapi sekaligus menciptakan peluang baru. Ia mengutip perhitungan World Economic Forum yang memperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang, sementara 170 juta pekerjaan baru akan muncul. “Adanya pekerjaan-pekerjaan baru tersebut membutuhkan modalitas berupa reskilling dan upskilling,” jelasnya.
Reskilling berarti mengubah orientasi keterampilan ke bidang baru, sedangkan upskilling adalah meningkatkan keterampilan yang sudah dimiliki. Ia mencontohkan munculnya profesi baru seperti social media manager, data scientist, dan AI engineer yang sebelumnya tidak dikenal. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan keterampilan digital. Berdasarkan data, Indonesia berada di peringkat 51 dari 69 negara dan peringkat 12 dari 14 negara di Asia Pasifik dalam hal keterampilan digital. “PR besar kita adalah bagaimana meningkatkan digital skill dalam penguasaan AI, pengembangan teknologi, serta komersialisasi riset,” tegasnya.
Selain keterampilan digital, pola rekrutmen tenaga kerja juga berubah. Perusahaan kini lebih mempertimbangkan kompetensi dibanding sekadar latar belakang pendidikan. Anwar mengingatkan calon lulusan UGM agar tidak hanya mengandalkan reputasi almamater. “Kita patut berbangga sebagai alumni universitas terbaik di Indonesia. Tapi itu tidak cukup,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya pengalaman kerja lapangan sebagai nilai tambah dalam memasuki pasar kerja.