Mahasiswa Asing Rasakan Pengalaman Pertama di UMY
- Dok Humas UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali meneguhkan posisinya sebagai kampus berwawasan global dengan menerima 76 mahasiswa asing dari berbagai negara pada Tahun Akademik 2026/2027. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian Masa Ta’aruf (Mataf) mahasiswa baru yang digelar di Sportorium UMY. Bagi sebagian besar mahasiswa internasional ini, Mataf menjadi pengalaman pertama mereka mengenal lingkungan kampus sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia.
Salah satu mahasiswa asing yang mengikuti kegiatan adalah Tehzeeb Ul Hassan dari Pakistan. Ia memilih Program Studi Keperawatan UMY dan mengaku tertarik datang ke Indonesia karena kedekatan nilai budaya dan keagamaan dengan negara asalnya. “Indonesia merupakan negara Islam, dan saya menyukai hal tersebut karena nilai-nilai budaya kita memiliki banyak kesamaan. Karena itu, saya merasa tidak akan terlalu sulit untuk menyesuaikan diri dengan budaya di Indonesia,” ujarnya. Keputusan Tehzeeb untuk berkuliah di UMY juga dipengaruhi rekomendasi seorang teman yang lebih dahulu menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Keramahan mahasiswa Indonesia menjadi kesan pertama yang dirasakan Tehzeeb. Meski baru pertama kali datang ke Indonesia, ia tidak menemukan perbedaan budaya yang membuatnya kesulitan beradaptasi. Pengalaman ini membuatnya semakin yakin bahwa studinya di UMY tidak hanya akan memberinya ilmu, tetapi juga kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan dan pengalaman lintas budaya.
Berbeda dengan Tehzeeb, Naveed Mahbub dari Bangladesh yang menempuh pendidikan di International Program of International Relations (IPIREL) UMY menekankan perpaduan antara kesempatan akademik dan pengalaman budaya sebagai alasan memilih Indonesia. “Bagi saya, Indonesia memiliki perpaduan yang menarik antara latar belakang akademik dan budaya. Saya bisa mendapatkan pengalaman belajar di negara yang memiliki banyak hal untuk dieksplorasi, tetapi pada saat yang sama tetap dekat dengan akar keagamaan saya,” jelasnya.
Naveed mengakui sempat merasa lelah dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Namun, kegiatan pra-Mataf dan Mataf justru memberinya pengalaman baru. Ia bertemu dengan banyak mahasiswa Indonesia dan mulai membangun pertemanan yang sebelumnya belum dimilikinya. “Ketika bersama kelompok, saya bertemu banyak orang baru dan mulai membangun pertemanan dengan mahasiswa Indonesia. Sebelumnya saya tidak memiliki teman dari Indonesia, tetapi sekarang saya sudah memiliki banyak teman,” tuturnya.