Belajar Coding Dini, Pakar UGM : Eksklusivitas Pembelajaran Tidak Elok
- Istimewa
Menyinggung perihal pengkhususan mata pelajaran AI dan Coding diperuntukan di sejumlah sekolah terpilih saja, Iradat memandang hal itu tidak tepat karena dari segi tenaga pengajar, menurutnya guru-guru muda diharuskan mengajarkan logika matematika dan logika komputasi yang rasional dan kembali pada konsep dasar. Guru-guru dinilai perlu melakukan peningkatan pengetahuan mengenai tools pembuatan coding. Iradat juga mempertanyakan kesiapan pemerintah perihal sarana-prasarana yang nanti digunakan guru dan murid, seperti kesediaan laptop atau komputer. “Eksklusifitas pembelajaran itu tidak pernah bagus. Tidak perlu ambisius dan buru-buru karena ini semua harus disiapkan secara totalitas,” tambahnya.
Sebaliknya ia menuntut agar pemerintah dapat menciptakan program yang lebih inklusif dan merata. Iradat melanjutnya, jika program ini hanyalah pilot project, ia menilai agar sampel percobaannya tidak hanya membidik pada sekolah di kota-kota besar dan sekolah yang sudah maju saja. Prinsip pemerataan dan keadilan baginya harus menjadi hal yang utama, “Kalau nanti hanya memilih di sekolah yang bagus, itu berarti cherry picking (pembenaran sepihak),” imbuhnya.
Iradat berharap, kemajuan Sains, Technology, Engineering, and Mathematic (STEM) memang perlu ditingkatkan, namun harus diimbangi dengan ilmu-ilmu sosial, agar tercipta kolaborasi antardisiplin ilmu sehingga dapat menghasilkan generasi muda yang melek isu sosial. Ia percaya, individu yang memiliki kemampuan STEM dan bisa tumbuh dengan kultur social science yang baik akan generasi emas bermartabat sebagai pendorong kemajuan bangsa. “Pemahaman social science-nya tetap harus diperkuat di dalam level yang sama agar tidak kehilangan arah dan tidak apatis,” pungkasnya.