UGM Perkuat Ekosistem Startup Berbasis Inovasi
- Dok UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan perannya sebagai penggerak ekosistem startup berbasis riset dan teknologi melalui penyelenggaraan Demo Day & Ecosystem Mixer 2025 di The Jogja Hotel & Conference Center, Yogyakarta. Acara ini menjadi puncak dari rangkaian program pre-inkubasi Innovation Challenge dan pendanaan inkubasi–akselerasi Startup Grant 2025, yang merupakan bagian dari inisiatif nasional Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks (PRIME STeP).
Dalam program tersebut, UGM berupaya membangun startup sejak tahap ideasi hingga fasilitasi scale-up menuju pendanaan lanjutan. Dukungan diberikan secara menyeluruh, mulai dari pendampingan intensif, ruang kerja bersama, jejaring global, hingga akses ke sumber daya riset kampus. Plt Direktur Pengembangan Usaha UGM, Prof. Sang Kompiang Wirawan, menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi fase penting penguatan pembinaan startup. Dari 58 pendaftar Innovation Challenge, sebanyak 25 tim lolos tahap pre-inkubasi, 19 tim berhasil menyelesaikan program, dan 14 startup terpilih menerima pendanaan Startup Grant. Enam di antaranya bahkan melaju ke fase akselerasi. “Pendampingan dilakukan melalui masterclass, workshop, bootcamp, mentoring, dan evaluasi berkala agar startup siap melakukan validasi pasar, pengembangan produk, serta penguatan strategi bisnis,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menambahkan bahwa pengembangan ekosistem inovasi merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi dan kolaborasi lintas pihak. Ia menekankan bahwa UGM telah menapaki perjalanan ini lebih dari satu dekade dan terus berupaya menjadi motor penggerak inovasi berbasis riset. “UGM ingin menjadi melting pot bertemunya mahasiswa, dosen, alumni, peneliti, founder, venture capital, hingga mitra industri, untuk bersama-sama membangun inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan bangsa,” katanya.
Komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi riset juga ditegaskan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. M. Fauzan Adziman, Ph.D. Menurutnya, Demo Day & Ecosystem Mixer bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang konkret pertemuan antara gagasan, teknologi, dan peluang investasi. Ia menilai program PRIME STeP bukan hanya skema pendanaan, melainkan platform transformasi yang mendorong perguruan tinggi berperan lebih aktif dalam pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi. “Hari ini kita menyaksikan bagaimana gagasan, teknologi, dan keberanian generasi muda bertemu dengan dukungan ekosistem untuk membangun masa depan Indonesia. Inilah wujud nyata hilirisasi riset yang terus kami dorong,” tegasnya.