Kampus di Indonesia minim Berbasis Riset, Pengabdian Masyarakat Masih Lemah

Prof Kuwat Triyana yang aktif meneliti
Sumber :
  • Dok UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi yang diarahkan untuk berkembang menjadi universitas riset dan berkontribusi nyata bagi daerahnya. Namun, hingga kini baru sekitar 5 persen kampus yang berhasil melakukan transformasi tersebut. Fakta ini disampaikan Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Mukhamad Najib, dalam kegiatan Journalist Bootcamp Dikti 2025 bertema “Sinergi Dikti dan Media untuk Kampus Berdampak” di Bogor beberapa waktu lalu.

img_title Bertahun-tahun Rusak, Jalan Mayong–Pancur Akhirnya Dibeton, Truk Tambang Dialihkan

Pemerintah menekankan pentingnya keseimbangan antara fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dorongan ini sejalan dengan visi pembangunan nasional yang menempatkan perguruan tinggi sebagai motor penggerak riset sekaligus agen perubahan sosial.

Menyikapi hal tersebut Dekan FMIPA UGM, Prof Kuwat Triyana, menilai kampus di Indonesia kini menghadapi tantangan relevansi. Menurutnya, sebagian generasi muda tidak lagi menganggap kuliah sebagai pilihan utama. “Banyak anak muda memilih jalur alternatif seperti kursus singkat, bootcamp, atau terjun ke gig economy,” ujarnya pada Jumat (12/12/2025).

img_title Jadi Jalur Penting, Warga Desak Jalan Inspeksi Utara Stasiun Sentolo yang Sudah 5 Tahun Rusak Segera Diperbaiki

Kuwat menambahkan, terdapat dua arus besar dalam pendidikan tinggi saat ini. Negara berupaya meningkatkan jumlah lulusan sebagai indikator pembangunan, sementara individu lebih realistis dengan menghitung keuntungan investasi pendidikan. Di sisi lain, kurikulum nasional masih tertinggal dibandingkan negara lain. “Kampus tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi harus menjadi arena pembentukan kemampuan memecahkan masalah nyata,” tegasnya.

Ia juga menyoroti lemahnya implementasi program pengabdian masyarakat. Banyak kegiatan berhenti pada laporan administratif, dokumentasi, atau jumlah aktivitas, tanpa menghasilkan dampak yang terukur. Padahal, pengabdian seharusnya mampu menurunkan biaya kesehatan, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi risiko sosial.

img_title Jalan Baru Duplak–Sumanding Dibuka, Wisata Lereng Muria Diproyeksi Makin Berkembang

Kuwat menilai masalah lain adalah ketidaksesuaian topik riset dengan kebutuhan masyarakat. Pemilihan tema sering didasarkan pada kemudahan pengerjaan atau ketersediaan alat dan data, bukan pada pemetaan pemangku kepentingan. “Siapa penerima manfaat, siapa pengambil keputusan, dan siapa yang membiayai, sering kali tidak jelas sejak awal,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi seharusnya berperan sebagai penghubung antara realitas hari ini dan kebutuhan masa depan. Kampus mesti menjadi simpul kolaborasi antara pemuda, industri, komunitas, media, dan platform pembelajaran agar solusi tidak berhenti di atas kertas.

Halaman Selanjutnya
img_title