UGM Gelar Sarapan Gratis, Mahasiswa Lebih Siap Hadapi UAS

Sarapan gratis di UGM selama ujian akhir semester
Sumber :
  • Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja -  Suasana ujian akhir semester (UAS) di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun ini terasa berbeda. Di sejumlah fakultas, mahasiswa disambut dengan paket sarapan gratis yang dibagikan sebelum ujian dimulai. Program ini menjadi bentuk kepedulian kampus terhadap mahasiswa, terutama mereka yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi maupun terdampak bencana.

img_title 15 Tahun KUSTOMFEST: “High Octane” Pacu Kreativitas Builder Kustom Indonesia

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Dr drh Widagdo Sri Nugroho menyebut inisiatif ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga dukungan moral. “Sangat membantu, terutama teman-teman yang sedang terdampak bencana. Tetapi terlepas dari itu, program ini juga sangat membantu mahasiswa yang tidak sempat sarapan,” ujarnya, Kamis (18/12).

Di FKH, sarapan dibagikan langsung oleh dosen atau tenaga pendidik pada sesi pertama ujian. Paket makanan disiapkan sesuai jumlah peserta ujian di tiap ruangan. “Aman saja semuanya, lancar dan tepat sasaran. Kalaupun ada kelebihan, biasanya diberikan kepada petugas keamanan atau pengawas,” tambah Widagdo.

img_title Kreativitas Daur Ulang Warnai Karnaval HUT ke-270 Kota Yogyakarta

Mahasiswa pun merasakan manfaat nyata. Aulindasyifa dari Fakultas Geografi mengaku lebih fokus mengerjakan soal setelah mendapatkan sarapan. “Kadang ujian mulai pagi sekali, sementara tidak sempat masak. Dengan adanya sarapan gratis, konsentrasi jadi lebih terjaga,” katanya.

Namun, ada pula catatan kritis dari mahasiswa. Maria Rosa Fortunata dari Fakultas Kedokteran Gigi menilai program ini belum sepenuhnya optimal. “Makanannya masih berupa makanan ringan, belum cukup untuk kebutuhan energi selama ujian. Tapi inisiatif ini sudah baik,” ujarnya. Ia berharap ke depan fakultas bisa menyediakan menu yang lebih mengenyangkan, terutama bagi mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.

img_title Program Rumah Layak Pemkot Yogya, Lengkapi Akses Air Bersih

Program serupa juga berjalan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Fakultas Hukum (FH). Di FIB, sarapan gratis dikenal dengan nama SIBUYA (Sarapan Pagi Ilmu Budaya). Program ini merupakan kerja sama Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA), Dharma Wanita, dan kantin fakultas. Setiap Senin, Selasa, dan Kamis selama dua minggu UAS, sekitar 200 porsi sarapan dibagikan. Sistemnya menggunakan kupon, sementara menu Selasa berasal langsung dari orang tua mahasiswa yang memiliki usaha kuliner.

Dekan FIB, Prof. Setiadi, menilai program ini sebagai bentuk empati fakultas. “Kami melihat pentingnya kegiatan ini sebagai apresiasi dan dukungan bagi mahasiswa yang sedang menjalani ujian akhir semester,” katanya. Program yang sudah berjalan sejak 2023 ini bahkan menghadirkan menu kukusan yang menjadi favorit mahasiswa.

Di FMIPA, program sarapan gratis telah berlangsung tiga tahun. Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Dr. Wiwit Suryanto, menjelaskan bahwa ide ini muncul setelah ada kasus mahasiswa pingsan saat ujian karena belum sempat sarapan. “Ibu-ibu Dharma Wanita yang mengelola kantin kecil sering berinteraksi dengan mahasiswa, sehingga tahu kondisi mereka,” jelasnya. Di FMIPA, sekitar 250 porsi sarapan dibagikan setiap hari selama dua minggu UTS dan UAS, dengan pendanaan 60 persen dari fakultas dan 40 persen dari kas Dharma Wanita.

Mahasiswa Fakultas Hukum, Okta Amaliya, menilai program ini cukup membantu, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal ujian pagi. “Kadang makanan tidak langsung dimakan, tapi bisa disimpan. Jumlah paket sekitar 200 porsi per hari, meski ke depan porsinya perlu ditambah,” katanya.

Program sarapan gratis di UGM mencerminkan komitmen kampus menghadirkan lingkungan akademik yang peduli pada kesejahteraan mahasiswa. Selain memberi asupan nutrisi, inisiatif ini juga menjadi wujud solidaritas antara fakultas, orang tua, dan Dharma Wanita. Harapannya, program ini terus berlanjut dan menginspirasi fakultas lain untuk melakukan hal serupa, sehingga mahasiswa dapat menghadapi ujian dengan kondisi fisik dan mental yang lebih siap.