Green Supply Chain Padi Jadi Penopang Swasembada Beras
- Dok UMY
VIVA Jogja - Menjaga swasembada beras nasional tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Ketahanan pangan yang berkelanjutan menuntut adanya efisiensi rantai pasok sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Di sinilah konsep green supply chain (GSC) menjadi relevan, terutama dalam pengelolaan padi dari hulu hingga hilir.
Pakar Supply Chain dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Susanawati, menjelaskan bahwa green supply chain dalam konteks padi adalah sistem aliran produk, keuangan, dan informasi yang dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, prinsip ini bukan sekadar tambahan, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari sistem agribisnis.
Tahapan produksi menjadi titik paling krusial. Aktivitas budidaya padi seringkali menimbulkan dampak lingkungan yang besar, mulai dari penggunaan pupuk dan pestisida kimia berlebihan, kebutuhan air irigasi yang tinggi, hingga emisi gas rumah kaca. Namun, persoalan tidak berhenti di sana. Fase pasca panen dan pengolahan juga menghadirkan tantangan serius, seperti kehilangan hasil, limbah sekam dan dedak, serta konsumsi energi yang tinggi dalam proses pengeringan dan penggilingan. Susanawati menekankan bahwa ketika kehilangan hasil terjadi, seluruh sumber daya yang telah digunakan pada tahap produksi menjadi sia-sia.
Meski penerapan green supply chain membutuhkan investasi awal dan penyesuaian, pendekatan ini diyakini mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk alternatif, serta pengelolaan air yang lebih hemat akan menjaga kesuburan tanah dan mengurangi risiko gagal panen. Dalam jangka panjang, sistem ini tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.
Susanawati menilai bahwa green supply chain padi memiliki kontribusi strategis dalam menjaga keberlanjutan swasembada beras. Kontribusi tersebut mencakup keberlanjutan produksi, pengurangan kehilangan hasil, efisiensi distribusi, peningkatan kesejahteraan petani, hingga penguatan sistem pangan menghadapi dampak perubahan iklim. Namun, ia menegaskan bahwa penerapan konsep ini tidak bisa dilakukan secara parsial.
Dukungan kebijakan yang komprehensif mutlak diperlukan. Subsidi untuk input ramah lingkungan, insentif harga, jaminan pasar melalui contract farming, penguatan peran Bulog, hingga sertifikasi beras ramah lingkungan menjadi kunci agar green supply chain padi dapat diterapkan secara luas. Tanpa dukungan tersebut, upaya menjaga swasembada beras berkelanjutan akan sulit tercapai.