Ryaas Amin, Mahasiswa UGM yang Menjalani Dua Dunia: Kuliah dan Ojol

Ryaas Amin
Sumber :
  • Dok Humas UGM

VIVA Jogja -  Di tengah riuh jalanan kota, seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada tampak menyusuri trotoar dengan jaket hijau khas pengemudi ojek daring. Dialah Ryaas Amin, mahasiswa Fakultas Psikologi yang memilih jalan berbeda dari kebanyakan teman sebayanya. Ia menempuh kuliah sambil bekerja sebagai pengemudi ojek online dan pengantar makanan, sebuah keputusan yang lahir dari tekad untuk mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada orang tua.

img_title Tragedi Wisata Posong, Satu Keluarga Meninggal Dunia Termasuk Mahasiswa UGM

Perjalanan Ryaas dimulai ketika ia meminjam motor milik kakaknya untuk mengantar penumpang. Seiring waktu, ia beralih menggunakan kendaraan dari pamannya sebagai modal utama menjalani pekerjaan. Dari penghasilan yang diperoleh, ia mampu menutup biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Ryaas mengaku, manajemen waktu menjadi kunci agar kuliah dan pekerjaan bisa berjalan beriringan. Saat masa KRS, ia selalu mempertimbangkan jumlah SKS yang diambil agar tidak bentrok dengan jadwal kerja.

Rutinitas yang dijalani memang tidak mudah. Pagi ia menghadiri kelas, siang hingga malam ia melayani pesanan pelanggan. Meski begitu, pekerjaan sebagai pengemudi ojek daring dianggapnya fleksibel dan cukup menjanjikan. Ryaas bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp3–4 juta per bulan, angka yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 sejalan dengan tren mahasiswa di Yogyakarta yang bekerja paruh waktu. Tercatat lebih dari 8.000 mahasiswa di kota ini menekuni pekerjaan sampingan, dengan transportasi daring menjadi salah satu pilihan utama.

img_title Takoyaki Segede Bola Tenis Viral di Jogja, Netizen: “Ini Bukan Camilan, Ini Pengganjal Lapar!”

Keputusan untuk bekerja sambil kuliah membuatnya lebih berani mengambil langkah hidup mandiri. Ia ingin mewujudkan sesuatu atas usahanya sendiri, sehingga jika gagal, ia tidak merasa merugikan orang tua. Meski dukungan keluarga tidak selalu ditunjukkan secara terang-terangan, restu tetap hadir. “Yang penting kuliah dan kerja seimbang,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengalaman ini membentuk Ryaas menjadi pribadi yang tangguh. Ia terbiasa menghadapi rintangan, mengatur prioritas, multitasking, bahkan menyelesaikan konflik kecil dengan pelanggan. Semua proses itu diyakininya akan menjadi bekal berharga setelah lulus kuliah. “Aku jadi terbiasa mengatur skala prioritas dan menghadapi berbagai masalah. Itu bisa jadi modal penting nanti,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM, Bio Farma, dan Sinovac Perkuat Kolaborasi Riset Vaksin untuk Indonesia