Nyamplung dan Malapari, Harapan Baru Energi Terbarukan Indonesia

Tanaman Nyamplung
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jogja - Gejolak geopolitik global yang dipicu perang Iran telah menimbulkan dampak besar terhadap pasokan energi dunia. Jalur vital kapal tanker di Selat Hormuz ditutup, membuat suplai minyak mentah dari kawasan Timur Tengah tersendat. Kondisi ini memicu kelangkaan dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pasar internasional. Indonesia sebagai negara importir BBM menghadapi dilema berat: kebutuhan energi terus meningkat, sementara pemerintah berusaha menjaga stabilitas harga agar tidak membebani masyarakat. Dalam upaya mencari solusi, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Rusia untuk membuka peluang impor minyak dari negara tersebut.

img_title UGM Dorong Kedaulatan Pangan Lewat Inovasi Agrivoltaic

Namun, di tengah krisis energi ini, muncul gagasan untuk memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal. Guru Besar Ilmu Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dra Wega Trisunaryanti menilai momentum kelangkaan BBM harus dijadikan titik balik bagi Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan malapari (Pongamia pinnata) sebagai bahan baku biofuel. Kedua tanaman ini tumbuh melimpah di berbagai wilayah Indonesia dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, sehingga sangat ideal untuk mendukung kemandirian energi.

Prof. Wega menjelaskan bahwa minyak nabati dari nyamplung dan malapari tidak hanya berpotensi digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, tetapi juga sedang diteliti untuk kebutuhan bahan bakar pesawat. Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang ramah lingkungan dinilai sangat strategis, mengingat tingginya permintaan global terhadap bahan bakar hijau. Jika berhasil dikembangkan, Indonesia dapat menjadi pemain penting dalam pasar energi terbarukan dunia.

img_title Biodiesel B50 Mulai Diterapkan, Akademisi UMY Ingatkan Konsistensi Mutu dan Kesiapan Mesin

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan biofuel harus memperhatikan standar keselamatan mesin. Kendaraan saat ini dirancang untuk BBM tertentu, sehingga penelitian mendalam diperlukan agar penggunaan biofuel tidak merusak mesin dalam jangka panjang. Menurutnya, riset kolaboratif antara akademisi, industri, dan pemerintah sangat penting untuk memastikan keberlanjutan pengembangan energi terbarukan. Ia juga menyoroti masih adanya sikap individualis di kalangan peneliti yang membuat riset sering berhenti di laboratorium tanpa dilanjutkan ke tahap hilirisasi industri.

Halaman Selanjutnya
img_title