Mahasiswa UGM Menang Kompetisi Makalah Energi Terbarukan di Forum Internasional
- Dok UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Tim Program Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik berhasil meraih juara pertama dalam ajang Graduate Student Paper Competition pada 7th Asia Pacific IEOM Conference yang diselenggarakan secara virtual oleh IEOM Society International di Bangkok, Thailand. Kompetisi ini merupakan bagian dari konferensi bergengsi Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) yang diikuti oleh peserta dari 56 negara.
Tim UGM terdiri dari lima mahasiswa angkatan 2024, yakni Arham, La Ode Masri Ande Kolewora, Muhammad Taufiq, Saiful M., dan Virtuous Ikmal Wicaksono. Mereka membawakan karya ilmiah berjudul “The Mid-Term Forecast of South Sulawesi’s Renewable Energy Supply and Demand: An Application of Long-Range Energy Alternatives Planning”. Penelitian ini dibimbing oleh Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., dan mengangkat isu strategis mengenai proyeksi kebutuhan serta pasokan energi terbarukan di Sulawesi Selatan.
Kajian yang mereka lakukan menyoroti potensi besar energi terbarukan di wilayah tersebut, mulai dari tenaga air, angin, panas bumi, biomassa, hingga tenaga surya. Dari semua potensi yang ada, tenaga air menjadi yang paling dominan karena banyaknya sungai dan anak sungai yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Sulawesi Selatan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air menjadi prioritas utama, sementara tenaga surya diproyeksikan sebagai alternatif kedua.
Arham menjelaskan bahwa sejak 2015, permintaan energi listrik di Sulawesi Selatan meningkat pesat di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, industri, bisnis, hingga pemerintahan. Timnya kemudian mencoba memproyeksikan kebutuhan energi listrik antara tahun 2025 hingga 2034 dengan mempertimbangkan tren peningkatan tersebut.
Dari hasil kajian, mereka menawarkan dua skenario. Pertama, mengikuti program transisi energi pemerintah dengan memanfaatkan seluruh potensi energi terbarukan dan menghentikan penggunaan energi fosil. Kedua, mengombinasikan energi fosil dengan energi terbarukan. Berdasarkan analisis, skenario kombinasi dianggap lebih realistis untuk jangka menengah. Artinya, pembangkit listrik berbasis fosil tidak bisa langsung dihentikan total, tetapi dapat dikurangi secara bertahap dengan target komposisi 50 persen energi terbarukan dan 50 persen energi fosil.