Nadya Marvella Santarini, Lulus Tercepat di Wisuda UGM Lewat Riset Tren Live Commerce
- Dok Humas UGM
VIVA Jogja - Fenomena belanja daring melalui siaran langsung atau live commerce kini menjadi tren yang marak di masyarakat. Di balik tren tersebut, Nadya Marvella Santarini, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), justru menjadikannya sebagai fokus penelitian untuk skripsi. Ketertarikannya pada perilaku konsumtif di era digital mengantarkannya menjadi lulusan dengan masa studi tercepat pada Wisuda Program Sarjana periode Mei 2026. Nadya berhasil menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 1 hari, lebih cepat dibandingkan rata-rata masa studi 1.644 lulusan sarjana periode ini yang tercatat 3 tahun 11 bulan. Ia resmi diwisuda pada Rabu (21/05/2026) lalu.
Skripsi Nadya berjudul The Role of Social Influence in Compulsive Buying on Live Commerce: Self Control as the Moderator. Penelitian ini menyoroti pengaruh social influence terhadap kecenderungan compulsive buying pada pengguna live commerce. Ia menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei terhadap lebih dari 250 responden menggunakan tiga instrumen, yakni Bergen Shopping Addiction Scale (BSAS), Consumer Susceptibility to Interpersonal Influence (CSII), dan Brief Self-Control Scale (BSCS). Data kemudian dianalisis dengan moderation analysis dan multiple linear regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sosial berkontribusi terhadap perilaku belanja kompulsif. Sementara kontrol diri tidak terbukti memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut, tetapi tetap memiliki pengaruh langsung sebagai prediktor negatif terhadap perilaku belanja kompulsif.
Nadya menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya aktivitas belanja melalui siaran langsung di media digital yang banyak dipengaruhi oleh interaksi sosial, baik dari host maupun konsumen lain. Menurutnya, live commerce menghadirkan tekanan sosial yang mampu memengaruhi keputusan seseorang dalam berbelanja. “Aku meneliti apakah pengaruh orang-orang, baik itu konsumer lain ataupun host di live commerce, memiliki dampak kepada kecenderungan konsumer untuk jatuh ke compulsive buying dan apakah kontrol diri kita bisa jadi moderator untuk efek itu,” jelasnya.
Di balik keberhasilan menyelesaikan studi lebih cepat, Nadya mengaku proses pengerjaan skripsi penuh tantangan. Baginya, revisi adalah hambatan terbesar yang sering membuat mahasiswa kehilangan motivasi. Banyak mahasiswa merasa lelah secara mental setelah menghadapi revisi berulang, hingga akhirnya tidak percaya diri untuk melanjutkan bimbingan. Nadya memilih mengubah cara pandangnya terhadap revisi. Ia menjadikannya sebagai motivasi untuk berkembang dan membangun komunikasi aktif dengan dosen pembimbing agar memiliki timeline yang jelas. “Aku mengganti perspektif aku dan mengatur ulang hambatan itu jadi sesuatu yang bisa membantu aku. Aku menganggap dosen itu pemandu yang membantu aku berkembang,” katanya.