Menjaga Warisan Buku dan Arsip di Tengah Arus Digitalisasi

Perpustakaan UGM
Sumber :
  • Dok UGM

VIVA Jogja - Perkembangan teknologi dalam lima tahun terakhir telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan buku. Tren penggunaan e-book semakin mendominasi, namun keberadaan buku fisik tetap memiliki tempat istimewa di hati para pembaca. Momentum Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei menjadi pengingat penting bahwa minat baca harus terus ditumbuhkan, sekaligus memperkuat ekosistem perbukuan di Indonesia yang kini berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas.

img_title ARCHIVEPELAGO: Garin Nugroho, 45 Tahun Persemaian Kreativitas dan Arsip Kolektif Bangsa

Kepala Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Arif Surachman, SIP., M.B.A., menegaskan bahwa esensi sebuah buku terletak pada substansi kontennya, bukan pada medium penyampaiannya. Menurutnya, tidak semua orang merasa nyaman membaca melalui layar digital, terutama jika hanya menggunakan ponsel. Karena itu, perpustakaan UGM berkomitmen menjaga keseimbangan antara koleksi fisik dan digital agar kebutuhan mahasiswa tetap terpenuhi. “Kami selalu berupaya menyeimbangkan kebutuhan mahasiswa, baik koleksi secara fisik maupun digital,” ujarnya.

Perpustakaan Pusat UGM saat ini memang memberi perhatian besar pada pengembangan koleksi digital, namun buku fisik tetap disediakan dengan cakupan lintas disiplin ilmu serta buku pengayaan. Mahasiswa bahkan diberi kesempatan untuk mengusulkan pengadaan buku baru, sehingga koleksi yang tersedia benar-benar relevan dengan kebutuhan akademik. Selain itu, UGM juga mengembangkan platform repository.ugm.ac.id yang memungkinkan karya ilmiah dosen dan mahasiswa dapat diakses lebih luas. Meski demikian, akses terhadap karya tulis akhir mahasiswa masih dibatasi demi menjaga hak cipta, sementara artikel ilmiah dan paper sudah difasilitasi secara terbuka melalui repositori institusi.

img_title Warga Yogya Diajak Berbagi Pengetahuan Lewat Gerakan Sumbang Buku 2026

Tidak hanya berhenti pada pengelolaan buku, perpustakaan UGM juga berperan penting dalam menjaga arsip sejarah universitas. Bertepatan dengan Hari Kearsipan Nasional yang jatuh pada 18 Mei, Arif menegaskan komitmen UGM dalam melestarikan rekam jejak sejarah kampus, mulai dari dokumentasi kepemimpinan Prof. Sardjito hingga gerakan mahasiswa. Upaya ini diwujudkan melalui Sistem Informasi Kearsipan Statis (SIKS) serta program digitalisasi dokumen lama agar lebih mudah diakses oleh masyarakat. “Kami tengah mengembangkan sistem baru yang diproyeksikan dapat lebih memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi ke depan,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title