UGM Dorong Publikasi Inklusif Lewat Program CHSS
- Istimewa
Kehadiran program ini menjadi langkah penting di tengah kecenderungan pendanaan riset yang lebih banyak berfokus pada sains dan teknologi. Wening menilai ilmu sosial dan humaniora memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan pembangunan masyarakat. “Ilmu sosial dan humaniora itu sebetulnya bidang yang tidak kalah pentingnya. Di situ kita mencoba mengentaskan berbagai persoalan yang penting untuk dituliskan dan dibagikan kepada dunia,” katanya.
UGM berharap dapat menjadi pionir dalam memberikan ruang bagi akademisi dan kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses. Dengan adanya program ini, mereka diharapkan memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan kapasitas penelitian, memperluas jejaring internasional, serta meningkatkan daya saing publikasi. “Harapannya teman-teman dari underrepresented group ini memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dalam penelitian dan penulisan, sehingga mereka juga memiliki kesempatan yang sama dalam karir akademik mereka,” tegas Wening.
Program CHSS juga mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pelatihan dan pendampingan publikasi ilmiah bagi dosen muda dan mahasiswa pascasarjana mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas sumber daya akademik. Keterlibatan kelompok marjinal, penyandang disabilitas, serta masyarakat di wilayah 3T berkontribusi pada SDG 10 (Reduced Inequalities). Selain itu, keterwakilan gender dalam partisipasi peserta maupun pengembangan tema penelitian sejalan dengan SDG 5 (Gender Equality).
Dengan peran sebagai hub CHSS, UGM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ekosistem akademik yang lebih inklusif. Program ini bukan hanya tentang publikasi, tetapi juga tentang membuka jalan bagi akademisi dari berbagai latar belakang untuk berkontribusi dalam ilmu pengetahuan global.