Prediabetes Bisa Dicegah, Kuncinya Ada pada Gaya Hidup Sehat

Pencegahan Prediabetes
Sumber :
  • istimewa

VIVA Jogja - Prediabetes sering disebut sebagai “lampu kuning” sebelum seseorang benar-benar masuk ke fase diabetes tipe 2. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah sudah melewati batas normal, tetapi belum setinggi penderita diabetes. Meski terdengar mengkhawatirkan, kabar baiknya adalah prediabetes masih bisa dicegah, bahkan dikembalikan ke kondisi normal, jika seseorang mau melakukan perubahan gaya hidup.

img_title RI Rencanakan Pembangunan PLTN, UGM Siap Dukung dari Sisi SDM

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik Rumah Sakit Akademik UGM, dr Ali Baswedan, menjelaskan bahwa penurunan berat badan menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan risiko diabetes. Menurutnya, cukup dengan menurunkan sekitar 7 persen dari berat badan awal, risiko berkembangnya prediabetes menjadi diabetes bisa berkurang signifikan. “Lemak berlebih, terutama di area perut, membuat kerja insulin melemah. Akibatnya gula darah naik dan risiko prediabetes meningkat,” ujarnya.

Orang dengan obesitas, riwayat keluarga diabetes, usia di atas 40 tahun, serta kebiasaan jarang beraktivitas fisik memiliki risiko lebih tinggi mengalami prediabetes. Dengan mengurangi simpanan lemak tubuh, sensitivitas insulin akan meningkat. Selain itu, berkurangnya lemak juga menurunkan peradangan dan mengurangi zat kimia yang menghambat kerja insulin. Hasilnya, glukosa lebih mudah masuk ke dalam sel dan kadar gula darah menurun.

img_title Mayoritas Pekerja Indonesia Masih Informal, Ekonom UGM Dorong Perlindungan Ketenagakerjaan

Ali menekankan bahwa target diet bukan sekadar angka timbangan. Yang lebih penting adalah berkurangnya lemak tubuh dan bertambahnya massa otot. Otot yang lebih kuat akan membakar lebih banyak glukosa, sementara distribusi lemak yang lebih merata membuat metabolisme tubuh berjalan lebih baik. Karena itu, kombinasi latihan beban untuk membangun otot dan olahraga aerobik untuk membakar kalori menjadi pilihan terbaik.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa hasil setiap orang bisa berbeda. Faktor lamanya seseorang mengalami prediabetes, kondisi pankreas, serta kemampuan menjaga berat badan akan memengaruhi keberhasilan terapi. Jika berat badan kembali naik, risiko prediabetes pun muncul lagi.

img_title Trauma Kompleks pada Dewasa Muda: Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman

Bagi Ali, prediabetes adalah peringatan dini yang masih memberi kesempatan untuk kembali sehat. Menurunkan berat badan dengan cara yang benar, menjaga pola makan seimbang, dan aktif bergerak secara rutin bisa menormalkan gula darah tanpa harus bergantung pada obat. “Kuncinya bukan obat, melainkan perubahan gaya hidup jangka panjang yang konsisten,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title