Anjar Jambore Widodo, Legenda Hidup Persijap Jepara dengan Pengabdian Lebih dari Dua Dekade
- VIVAJogja
VIVAJogja – JEPARA, Nama Anjar Jambore Widodo tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Persijap Jepara. Pria kelahiran Purbalingga, 26 April 1973, tersebut merupakan salah satu figur yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk klub kebanggaan masyarakat kabupaten Jepara, mulai sebagai pemain, kapten tim, asisten pelatih, hingga pelatih kepala (25/07).
Perjalanan Anjar bersama Persijap dimulai pada 1993. Saat itu, ia bergabung sebagai pemain dan secara bertahap berkembang menjadi salah satu pilar penting tim. Penampilannya di lapangan mengantarkannya dipercaya memperkuat kontingen Jawa Tengah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 1996.
Kariernya terus berkembang. Pada tahun 2000, Anjar dipercaya mengemban ban kapten Persijap. Di bawah kepemimpinannya, Persijap mencatat salah satu tonggak sejarah dengan meraih promosi ke Divisi Utama, kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia pada masa itu.
Setelah memutuskan pensiun sebagai pemain pada 2005, Anjar tetap melanjutkan pengabdiannya di dunia sepak bola melalui jalur kepelatihan di Persijap. Ia memulai sebagai asisten pelatih, sebelum kemudian dipercaya menjadi pelatih kepala pada 2009.
Dedikasinya di bidang kepelatihan turut menghasilkan sejumlah prestasi. Anjar berhasil membawa tim sepak bola Jawa Tengah meraih medali emas pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Solo. Ia juga pernah menjabat sebagai asisten pelatih Persijap saat berlaga di Indonesia Super League (ISL), ketika Laskar Kalinyamat menutup kompetisi di peringkat kesembilan.
Kepercayaan terhadap kemampuannya kembali diberikan pada 2015 ketika ia ditunjuk sebagai pelatih kepala Persijap senior. Setahun kemudian, Anjar dipercaya menangani tim PON Jawa Tengah yang berlaga di Jawa Barat.
Selama berkarier di dunia kepelatihan, Anjar memperoleh banyak pengalaman berharga dengan mendampingi sejumlah pelatih berpengalaman yang pernah menangani Persijap, di antaranya almarhum Rudi Kelces, almarhum Junaidi, Sartono Anwar, Patric gigany, Agus Yuwono, hingga almarhum Suimin Diharja. Dari para pelatih tersebut, ia menyerap berbagai filosofi permainan dan kepemimpinan yang kemudian diterapkannya dalam pembinaan pemain muda.
Lebih dari sekadar mantan pemain atau pelatih, Anjar Jambore Widodo telah menjadi bagian penting dari identitas Persijap Jepara. Pengabdiannya selama lebih dari dua dekade menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap sebuah klub tidak hanya diukur dari gelar, tetapi juga dari loyalitas, konsistensi, dan komitmen dalam membangun sepak bola Jepara secara berkelanjutan.