Keris Raksasa di Kudus Dikirab Keliling Desa, Membumikan Warisan Keraton Surakarta
- arif
KUDUS, VIVAJogja- Kawasan Pegunungan Muria di Kabupaten Kudus, dikenal menyimpan banyak tradisi dan budaya yang bernuansa religi. Tradisi yang masih terawat hingga saat ini, biasanya digelar dalam momen-momen tertentu.
Salah satunya kirab budaya yang dilakukan Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) yang berada di Kudus. Tradisi yang dikolaborasikan antara Jawa dan Islam ini, digelar tiap tahunnya menjelang datangnya Ramadan.
Kirab budaya yang juga sebagai cara melestarikan nilai-nilai tradisi Islam Jawa ini, masih dirawat betul oleh warga di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe Kudus.
Kirab budaya Pakasa kampanyekan penggunaan baju adat Kudus
- arif
Ketua Pakasa Kudus, Kanjeng Raden Riya Arya Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro atau Pangarso, menekankan pentingnya menjaga warisan tradisi Islam Jawa.
“Tujuan kirab ini untuk meningkatkan keimanan menjelang bulan Ramadan. Selain itu, juga sebagai pengingat bahwa dahulu Keraton Surakarta adalah penerus dari Keraton Islam di tanah Jawa,” ujar Pangarso, Rabu (26/02/2025).
Sebelum kepemerintahan Keraton Surakarta, imbuh Pangarso, juga terdapat Keraton Demak Bintoro sebagai pusat pemerintahan Islam pertama di Jawa.
“Kerajaan Demak Bintoro kala itu rajanya adalah raja Islam. Kita mengingatkan kembali bahwa budaya Islam di Jawa itu memakai jawi jangkep, bukan jubah dan pakaian dari budaya luar,” terang Pangarso.
Tak hanya melestarikan tradis Islam dan Jawa, kirab tersebut juga memiliki misi positif lainnya. Yakni ikut melestarikan penggunaan pakaian adat Jawa khas Kudus.
“Kami juga ingin mensosialisasikan kembali penggunaan pakaian adat Jawa, khususnya di Kudus. Apalagi sekarang ASN dan pegawai di Pemkab Kudus diwajibkan memakai pakaian adat Jawa sebagai baju seragam resmi pada hari-hari tertentu,” terang Pangarso.
Paguyuban Kawula Keraton Surakarta merawat tradisi Jawa dan Islam.
- arif
Dalam tradisi pakaian adat Jawa, kata Pangarso, ada aturan khusus terkait penggunaan warna dan jenis pakaian sesuai dengan jenjang kepangkatan.
“Biasanya atela berwarna hitam adalah warna resmi. Sedangkan warna lain digunakan untuk pakaian harian. Ada juga aturan tertentu dalam pemakaian blangkon,” jelasnya.
Untuk diketahui, kirab budaya di desa yang berada di kaki Gunung Muria ini berlangsung meriah. Diikuti ratusan peserta dan mendapat sambutan hangat masyarakat Kota Kretek.
Tradisi kirab Pakasa tidak hanya dilakukan di Desa Margorejo saja. Kirab serupa juga dilakukan di Desa Gondangmanis, Rendeng dan Desa Singocandi.
Di lain sisi, Kepala Desa Margorejo, Sumirkan, menyambut baik tradisi yang masih dirawat oleh Pakasa di Kudus. Ia pun berharap tradisi ini menjadi agenda tahunan.
“Kegiatan ini sudah berlangsung dua kali, dan tahun ini kembali diadakan menjelang Ramadan. Kami mengapresiasi, karena ini adalah kegiatan positif memperkenalkan kembali budaya Jawa yang mungkin sudah banyak dilupakan oleh generasi muda,” terang Sumirkan.
Sumirkan menyebut, kirab budaya ini melibatkan banyak pihak, termasuk pemuda dan pelajar. Bahkan antusiasme warga sangat tinggi.
“Banyak pemuda dari desa kami yang ikut serta menjadi panitia dan pihak SMP 2 Dawe juga ikut memeriahkan,” ungkapnya.
Dalam kirab budaya ini, peserta mengenakan busana adat Jawa lengkap dengan atribut khas keraton. Selanjutnya disusul kirab melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Tahun depan, mungkin kami mengagendakan kirab ini bersamaan dengan acara lain di desa kami. Seperti Festival Durian atau kegiatan budaya lainnya agar semakin meriah,” tambahnya.
Ia berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari identitas budaya Kudus. Sehingga generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya leluhur mereka.