Puisi di Era Digital: Menjaga Ruang Sunyi Kata
- Dok UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Di tengah derasnya arus informasi digital, puisi kembali diperbincangkan sebagai medium yang mampu menghadirkan ruang sunyi bagi refleksi dan kepekaan batin. Peringatan Hari Puisi Dunia pada 21 Maret lalu menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa puisi bukan sekadar karya estetika, melainkan sarana merawat imajinasi, empati, dan nilai kemanusiaan.
Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM, Dr Novi Siti Kussuji Indrastuti, menegaskan bahwa puisi harus terus dihidupkan melalui pembacaan, penulisan, dan ruang apresiasi di berbagai lini. “Puisi perlu menjadi cahaya kecil dari kata-kata yang menumbuhkan empati, memperluas imajinasi, dan menguatkan kemanusiaan,” ujarnya, Senin (06/04/2026).
Menurut Novi, esensi puisi jauh melampaui keindahan bahasa. Ia menilai bahwa peringatan Hari Puisi Dunia adalah ajang refleksi atas kehidupan, alam, harapan, dan kearifan lokal. Namun, tantangan besar masih ada: minat baca puisi di kalangan generasi muda relatif rendah. Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia berada di angka 72, sementara survei PISA menegaskan literasi membaca pelajar Indonesia masih perlu ditingkatkan, termasuk dalam memahami karya sastra.
Meski demikian, Novi melihat adanya perkembangan positif. Puisi kini menemukan ruang baru melalui media digital seperti Instagram, blog, dan forum literasi daring. “Minat terhadap puisi sebenarnya tidak menurun, melainkan sedang mengalami transformasi medium dan cara apresiasinya,” jelasnya.
Ia menyoroti bahwa persepsi puisi sebagai karya yang sulit dipahami turut dipengaruhi oleh pendekatan pengajaran yang terlalu teoritis di sekolah. Novi mendorong agar pengajaran puisi dilakukan dengan cara lebih kreatif, misalnya melalui festival, pertunjukan, komunitas literasi, hingga pemanfaatan media digital. Dengan begitu, puisi dapat hadir lebih dekat dan relevan bagi generasi muda. “Perlu ada pembinaan, diskusi, dan ruang apresiasi berkelanjutan agar literasi puisi dapat membangun minat generasi muda dalam membaca, menulis, dan menghargai karya sastra sebagai bagian dari budaya dan ekspresi intelektual,” tambahnya.
Sebagai inspirasi, Novi menyebut sejumlah tokoh sastra yang berhasil membawa puisi lebih dekat dengan masyarakat. Nama-nama seperti Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Aan Mansyur dinilai mampu menghadirkan puisi dengan bahasa sehari-hari yang mudah diakses generasi muda. Mereka adalah penerus jejak penyair besar Indonesia, seperti Chairil Anwar, W.S. Rendra, dan Taufik Ismail, yang membuktikan bahwa tradisi kepenyairan di Indonesia tetap berlanjut.