Berawal dari Sate, 9 Tahun Perjalanan The Lawu Group di Dunia Wisata
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Karanganyar selama ini identik dengan udara sejuk dan lanskap Gunung Lawu. Namun di balik daya tarik alam itu, daerah ini perlahan menumbuhkan wajah lain: sebagai ruang lahirnya bisnis pariwisata berbasis lokal yang terus berkembang.
Dari kawasan Tawangmangu, The Lawu Group memulai perjalanannya sembilan tahun lalu. Berawal dari satu usaha kuliner, perusahaan ini tumbuh mengikuti arus wisata yang datang ke Karanganyar—dan belajar membangun usaha dengan ritme yang sama seperti alam di sekitarnya.
Usaha tersebut dimulai pada 2017 melalui brand Sate Lawu. Seiring waktu, bisnis berkembang tak hanya di sektor kuliner, tetapi juga merambah pengelolaan destinasi wisata.
Hingga kini, The Lawu Group mengelola 23 titik usaha dengan 34 brand, tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meski ekspansi terus dilakukan, Karanganyar tetap menjadi pusat pengembangan konsep dan operasional.
CEO The Lawu Group, Parmin Sastro, menilai Karanganyar memiliki keunggulan yang jarang dimiliki daerah lain. Kombinasi alam, budaya, serta kedekatan dengan masyarakat lokal dinilai memberi fondasi kuat bagi bisnis pariwisata yang berkelanjutan.
“Karanganyar memberi kami ruang untuk tumbuh secara alami. Bukan hanya soal destinasi, tapi tentang bagaimana usaha bisa berjalan bersama lingkungan dan masyarakat,” ujar Parmin saat perayaan ulang tahun ke-9 The Lawu Group di Tawangmangu, Jumat (9/1/2026) malam.
Selain memperkuat portofolio wisata di sekitar Gunung Lawu, perusahaan juga bersiap membuka destinasi baru di kawasan Bromo, Jawa Timur, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Februari 2026.
Ekspansi ini menjadi bagian dari strategi memperluas jangkauan tanpa meninggalkan karakter lokal yang selama ini dibangun.
Di luar pariwisata, The Lawu Group mulai memperkuat lini agrobisnis, pertanian, dan peternakan, serta menyiapkan langkah ke sektor keuangan syariah.
Diversifikasi ini diposisikan sebagai penopang usaha di tengah fluktuasi industri travel yang kerap dipengaruhi kondisi ekonomi dan cuaca.
Pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026, kunjungan wisata sempat mengalami penurunan sekitar 30 persen.
Tantangan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menata ulang pendekatan bisnis, terutama dalam menghadirkan pengalaman yang lebih bernilai bagi pengunjung.