Terobosan MBG di Karanganyar, Petani Desa Langsung Masuk Rantai Pasok
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Aktivitas pertanian di sejumlah desa di Karanganyar kini tidak lagi berhenti di lahan dan pasar tradisional. Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, hasil panen petani mulai diarahkan masuk ke dapur-dapur penyedia makanan yang melayani ribuan porsi setiap hari.
Perubahan ini muncul seiring upaya pengelola MBG di daerah tersebut membangun sistem pasokan berbasis lokal. Petani didorong menyesuaikan pola tanam, kualitas produksi, hingga tata kelola distribusi agar selaras dengan kebutuhan program nasional yang mengedepankan standar gizi dan keamanan pangan.
Pengurus Yayasan Bali Ndeso Berbakti, Aji Sudarsono, mengatakan keterlibatan petani desa memerlukan penataan dari hulu ke hilir. Pasokan bahan pangan MBG tidak bisa mengandalkan pola jual beli konvensional yang selama ini berlaku di sektor pertanian.
“Program ini membutuhkan kepastian. Bukan hanya soal jumlah, tapi juga mutu dan keberlanjutan. Karena itu sistemnya harus dibangun bersama,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).
Dalam ketentuan pengelolaan MBG, bahan baku dapur harus memenuhi kriteria tertentu yang ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut mendorong pengelola program di Karanganyar melakukan pembenahan di tingkat produsen.
Alih-alih membiarkan petani berproduksi secara individual, pendekatan kelembagaan dipilih. Koperasi dibentuk sebagai ruang koordinasi produksi sekaligus pintu masuk bagi petani, BUM Desa, dan pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai pasok MBG.
Aji menilai langkah ini penting agar suplai bahan pangan tidak bersifat insidental.
“Kalau sudah terorganisasi, pasokan bisa diatur dan risiko kekurangan bisa ditekan,” katanya.
Di sisi produksi, pola budidaya juga mulai bergeser.
Petani sayur di wilayah Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, diperkenalkan dengan sistem greenhouse untuk menyesuaikan kebutuhan dapur MBG yang memerlukan pasokan rutin.
Greenhouse MBG di Karanganyar
- VIVA Jogja
Teknologi ini memungkinkan tanaman tumbuh dalam kondisi yang lebih stabil, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida. Hasil panen menjadi lebih seragam dan mudah dikontrol dari sisi kualitas.
Saat ini, dua petani telah menerapkan sistem tersebut dan menyuplai bahan pangan ke tiga dapur MBG yang beroperasi di Popongan, Toh Kuning, dan Jatiyoso.