Garuda Institute Dorong Evaluasi Total BGN, Dukung Keberlanjutan Program MBG
- jogja.viva.co.id/Cahyo PE
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Lembaga kajian publik Garuda Institute menegaskan dukungan penuh terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, lembaga ini mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap Badan Gizi Nasional (BGN) menyusul berbagai persoalan tata kelola yang mencuat, mulai dari kasus hukum hingga kendala teknis di lapangan.
Direktur Eksekutif Garuda Institute, Bahtiar Sebayang, dalam konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (26/06/2026), menyatakan bahwa MBG adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. “Kami mendukung sepenuhnya program makanan bergizi gratis karena ini merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang. Bukan program yang hari ini dijalankan, besok langsung terlihat hasilnya,” ujarnya.
Bahtiar menyesalkan kasus korupsi yang menyeret sejumlah pejabat BGN hingga berujung pada pergantian kepemimpinan. Menurutnya, tindakan koruptif tersebut mencederai program yang didedikasikan untuk kemajuan bangsa. “Munculnya kasus korupsi kemarin dan pergantian Kepala BGN yang baru adalah bagian dari upaya korektif pemerintah. Evaluasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Selain persoalan hukum, Garuda Institute menyoroti kendala teknis dalam pelaksanaan MBG di daerah. Laporan lapangan menunjukkan adanya kasus keracunan makanan, keterlambatan distribusi, porsi yang kurang, hingga makanan yang tiba dalam kondisi dingin. Ketidakmerataan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menjadi sorotan, terutama di daerah dengan angka stunting tinggi yang justru kekurangan pasokan. “Tata kelola yang baik itu termasuk memastikan program tepat sasaran. Daerah dengan angka stunting lebih besar harus diprioritaskan,” imbuh Bahtiar.
Esensi Program MBG
Bahtiar menegaskan bahwa MBG bukan semata program penanggulangan stunting, melainkan stimulus pertumbuhan gizi anak sekolah secara umum sekaligus penggerak ekonomi pedesaan melalui perputaran komoditas lokal. “Ini menu baru di Indonesia. Berganti rezim dengan program yang template saja butuh waktu, apalagi menjalankan program baru ini. Kita perlu beri kesempatan dan waktu kepada Presiden Prabowo beserta jajaran kabinet untuk membenahinya,” jelasnya.
Pembina Garuda Institute, Erlan Nopri, turut mengapresiasi sikap responsif Presiden Prabowo dalam menyikapi kritik masyarakat serta sengkarut di BGN. Ia menegaskan komitmen lembaganya untuk mengawal jalannya program di lapangan. “Harapan kita tentu menuju Indonesia Emas. Mari bersama-sama kita kawal program ini berjalan sebagaimana mestinya dan berkelanjutan,” urai Erlan.