Sempat Ricuh dan Bentrok, Aksi Mahahaiswa Berlangsung hingga larut Malam
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Massa mahasiswa yang mengatas-namakan diri Aliansi Masyarakat Sipil bertahan hingga pukul 21.30 di perempatan Gramedia Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta, Selasa (01/09/2026) malam, untuk menyuarakan tuntutan mereka kepada pemerintah.
Aksi demonstrasi sempat berujung ricuh. Beberapa mahasiswa dilaporkan membutuhkan bantuan medis setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dan pihak eksternal yang diduga memprovokasi jalannya demonstrasi.
Kericuhan itu bermula saat massa yang sejak sore memenuhi kawasan simpang empat tiba-tiba panik akibat provokasi. Salah satu peserta aksi, Fa, menjelaskan bahwa situasi sempat tak terkendali dan membuat sejumlah mahasiswa harus dievakuasi untuk mendapatkan perawatan. “Ada teman-teman yang akhirnya butuh bantuan medis karena provokator memancing keributan. Massa panik, dan dari situ muncul kepanikan yang menyebabkan beberapa orang terluka,” ujarnya di lokasi.
Meski sempat terjadi kekacauan, Fa menegaskan bahwa para mahasiswa sudah lebih matang dalam menyikapi situasi. Ia menyebut solidaritas antar peserta aksi semakin kuat dibandingkan demonstrasi sebelumnya. “Kali ini teman-teman sudah belajar dari pengalaman. Ketika ada represi atau provokasi, kita tidak lagi terpukul mundur. Justru saling menguatkan dan tetap solid,” katanya.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.24 WIB itu merupakan gabungan dari berbagai aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil. Massa datang bergelombang, menyampaikan orasi dan teatrikal di tengah penjagaan ketat aparat. Namun menjelang malam, situasi memanas. Massa sempat dipukul mundur ke arah Jalan Cik Di Tiro sebelum akhirnya kembali merapat ke simpang empat Gramedia sekitar pukul 20.46 WIB.
Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM), Mesa, menilai bahwa akar persoalan yang mereka suarakan bukan sekadar tuntutan teknis, melainkan kebijakan rezim yang dianggap menyimpang dari konstitusi. “Kita punya banyak tuntutan, bisa sampai dua ratus, tapi semua bermuara pada satu hal: rezim hari ini,” ujarnya. Menurutnya, janji politik pemerintahan Prabowo-Gibran seperti pendidikan gratis dan transportasi publik gratis hanyalah ilusi. Ia menuding pemerintah telah memanipulasi konstitusi sejak awal pencalonan.
Mesa menyebut kebijakan pemerintah saat ini tak ubahnya kolonialisme gaya baru. Ia menyoroti alokasi APBN yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, melainkan diarahkan pada program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap tidak menyentuh akar persoalan masyarakat. “Negara ini masih dijajah oleh kebijakan yang menindas. Dana rakyat diambil untuk program yang dipaksakan, sementara pendidikan dan kesejahteraan diabaikan,” tegasnya.