Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Level III

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi
Sumber :
  • Bing Image Creator

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sepanjang periode pengamatan 8–11 Oktober 2026. Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung berketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut itu tetap berada pada Level III atau Siaga.

img_title Merapi Level III Siaga, Guguran Lava dan Awan Panas Masih Terjadi

Dalam laporan yang disusun oleh Erwin Widyon dan Yulianto dari PVMBG, aktivitas Merapi selama empat hari terakhir didominasi oleh gempa guguran dan gempa hybrid atau fase banyak. Pada 11 Oktober 2026, tercatat 18 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–19 milimeter dan durasi hingga 158 detik, serta 22 kali gempa hybrid dengan amplitudo 2–32 milimeter. Satu kali gempa vulkanik dangkal juga terdeteksi dengan amplitudo 6 milimeter dan durasi 16 detik.

Kondisi cuaca di sekitar Merapi selama pengamatan cenderung berawan dengan suhu udara berkisar antara 20–23 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 92 persen. Angin bertiup tenang ke arah timur, sementara tekanan udara berada di kisaran 873–917 milimeter merkuri. Secara visual, gunung kerap tertutup kabut dengan intensitas 0–III dan tidak teramati adanya asap kawah.

img_title Aktivitas Merapi Meningkat, Guguran Lava Capai 2 Kilometer

BPPTKG menyebutkan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer. Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang berpotensi memicu awan panas guguran di dalam area berbahaya. BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona potensi bahaya dan tetap waspada terhadap kemungkinan hujan abu serta lahar saat hujan turun di sekitar gunung.

img_title BPBD Sleman Siaga titik api di lereng Merapi akibat Erupsi

Pada periode sebelumnya, 10 Oktober 2026, aktivitas Merapi juga terpantau intens. Dalam 24 jam pengamatan, tercatat 83 kali gempa guguran dan 74 kali gempa hybrid dengan amplitudo mencapai 34 milimeter. Dua kali gempa vulkanik dangkal dan satu gempa tektonik jauh turut terdeteksi. Guguran lava teramati lima kali ke arah barat daya, meliputi Kali Sat, Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter.

Halaman Selanjutnya
img_title