AI, Pendidikan, dan Etika Digital dalam dunia Jurnalistik

Ketua Umum Siberkreasi, Donny B Utoyo
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menjadi arus utama dalam transformasi digital global. Di tengah pesatnya inovasi, muncul pertanyaan besar tentang bagaimana AI dapat dikelola secara etis, aman, dan inklusif.

img_title Wagub DIY dan Kapolda Baru Sepakat Selaraskan Penanganan Dinamika Sosial

Dalam Workshop Media bertajuk “Pemanfaatan AI untuk Jurnalisme Edisi Sekolah Rakyat” yang diselenggarakan di Yogyakarta, Selasa (18/11/2025), Ketua Umum Siberkreasi, Donny B Utoyo menyampaikan pandangannya mengenai peran AI dalam pendidikan, tantangan bias algoritma, serta ancaman disinformasi digital. Ia juga menyoroti pentingnya literasi digital sebagai fondasi utama dalam menghadapi era teknologi yang semakin kompleks.

Donny membuka paparannya dengan sebuah ilustrasi sederhana namun bermakna. Ia menyebutkan bahwa ketika ia meminta bantuan AI untuk membuat video manusia menggunakan VO3, sistem tersebut sudah memahami bentuk manusia dengan sangat presisi. Hal ini menunjukkan betapa canggihnya kemampuan AI dalam mengenali konteks visual dan suara. Namun, Donny mengingatkan bahwa di balik kecanggihan tersebut, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, banyak orang merasa belum menggunakan AI, padahal mereka telah bersentuhan dengannya setiap hari. Ia mencontohkan anak-anak di Sekolah Rakyat yang menggunakan komputer untuk mengakses email dan melakukan pencarian di internet, semua aktivitas itu sebenarnya sudah melibatkan teknologi AI.

img_title UGM dan Indosat Resmikan AI Technology Center, Perkuat Ekosistem Kecerdasan Buatan Indonesia Bersama NVIDIA

Donny menekankan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengenalkan AI kepada masyarakat, melainkan bagaimana menyiapkan generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen pasif. “Mereka harus sadar bahwa AI bukan sekadar alat, tetapi juga medan yang perlu dikuasai secara kritis dan kreatif,” ucapnya.

Dalam konteks pendidikan, Donny mengingat kembali pelajaran teori evolusi Darwin yang dulu terasa abstrak. Kini, dengan bantuan AI, konsep-konsep kompleks dapat divisualisasikan dalam bentuk audio-visual yang jauh lebih mudah dipahami. Ia membayangkan bagaimana Sekolah Rakyat bisa lebih maju jika tidak hanya menggunakan teknologi AI, tetapi juga memiliki konten pendidikan yang dikembangkan secara khusus dan relevan dengan kebutuhan lokal.

img_title UGM Kembangkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining Tuberkulosis di Wilayah Terpencil

AI, menurut Donny, memiliki potensi besar untuk menerjemahkan bahasa buku menjadi bahasa visual yang lebih mudah dicerna oleh siswa. Ia menyebut bahwa proses tersebut kini menjadi sangat mudah berkat kemajuan teknologi. Namun, di balik optimisme itu, Donny juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak otomatisasi terhadap dunia kerja. Ia mengenang masa awal kariernya di Detikcom pada tahun 1999, ketika semua pekerjaan jurnalistik dilakukan secara manual. Kini, dengan bantuan AI, proses seperti membuat transkrip pidato dan mengubahnya menjadi berita dapat dilakukan dalam hitungan menit. Dalam sesi praktik yang direncanakan, peserta forum diajak untuk mempelajari teknik prompting sebagai cara baru mempercepat kerja jurnalistik.

Bias dalam algoritma

Selain isu pekerjaan, Donny juga menyoroti bahaya disinformasi dan bias dalam algoritma. Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu mendeteksi hoaks, karena berbagai tools telah tersedia. Namun, ia mengingatkan bahwa AI belajar dari data publik. Jika masyarakat memiliki bias, maka AI yang dilatih dari data tersebut juga akan mereproduksi bias yang sama. Donny membagikan pengalaman pribadinya saat mencoba membuat ilustrasi fiksi menggunakan AI.

Ketika ditanya siapa yang lebih mungkin menjadi dokter, jawaban yang muncul sering kali adalah laki-laki kulit putih, padahal kenyataannya profesi perawat juga banyak diisi oleh

Donny menutup paparannya dengan ajakan untuk melakukan perlawanan terhadap dua hal yakni algoritma yang bias dan masyarakat yang belum inklusif. “Pekerjaan rumah kita adalah menjadi “menteri algoritma AI” dan “menteri masyarakat”, sebuah metafora yang menggambarkan perlunya intervensi aktif dari manusia dalam mengarahkan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, AI bukan entitas netral yang berdiri di ruang hampa. Ia merekam dan mereproduksi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan AI harus selalu disertai dengan kecerdasan manusia human intelligence, agar keputusan yang diambil tetap adil dan beretika.

Regulasi AI

Dikatakan, pemerintah Indonesia juga mengambil langkah strategis dalam menghadapi tantangan etika dan regulasi AI. Pada awal tahun 2026, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama tokoh teknologi nasional Bu Rondiji dan Bu Mudia mengumumkan akan hadirnya dua Peraturan Presiden (Perpres) penting.

Perpres tentang Etika AI dan Perpres tentang Peta Jalan AI. Kedua regulasi ini dirancang sebagai instrumen awal untuk memastikan bahwa pemanfaatan AI di Indonesia berjalan dalam koridor yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dokumen pendukung, termasuk roadmap AI nasional, kini dapat diakses publik melalui tautan s.id/pahamAI. Ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam menyambut era digital yang semakin kompleks dan menantang.