Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, Status Tetap Siaga
- Dok BPPTKG
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sepanjang periode pengamatan 2 Januari 2026 pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya beberapa kali awan panas guguran serta guguran lava dengan jarak luncur mencapai 1.500 meter.
Cuaca di sekitar Merapi terpantau mendung dan berawan dengan suhu udara berkisar antara 19,8 hingga 24,5 derajat Celsius.
Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat, sementara kelembaban udara berada pada kisaran 68 hingga 95 persen. Tekanan udara tercatat antara 871,6 hingga 916,5 mmHg. Secara visual, gunung tampak jelas meski sesekali tertutup kabut, dan tidak terlihat adanya asap kawah.
Dalam catatan kegempaan, terjadi empat kali awan panas guguran dengan amplitudo antara 11 hingga 34,91 milimeter dan durasi mencapai 134 detik. Guguran lava tercatat sebanyak 55 kali dengan amplitudo 2 hingga 25 milimeter dan durasi hingga 183 detik. Selain itu, terdeteksi 39 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 hingga 23 milimeter dan durasi hingga 64 detik. Awan panas guguran teramati meluncur ke arah Kali Krasak dengan jarak maksimum 1.500 meter, sementara guguran lava mengarah ke Kali Bebeng, Kali Sat/Putih, dan Kali Krasak dengan jarak luncur serupa.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung sehingga berpotensi memicu awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan berbahaya, mewaspadai ancaman lahar dan awan panas terutama saat hujan, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. Pemerintah daerah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten juga diminta meningkatkan upaya mitigasi menghadapi ancaman erupsi.