Program Gizi Nestlé Lewat Telur dan Susu Turunkan Risiko Stunting 22,5 Persen

Penutupan program Pendampingan Gizi Nestle
Sumber :
  • ist

JAKARTA, VIVA Jogja — Program pendampingan gizi yang dijalankan Nestlé Indonesia berhasil menurunkan risiko stunting pada anak hingga 22,5 persen di tiga daerah, yakni Kabupaten Batang, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Pasuruan.

img_title Akademi Pencegahan Stunting di Yogyakarta Terapkan Outcome Based Learning, Targetkan Perubahan Nyata dalam Enam Bulan

Temuan tersebut berasal dari penelitian akademis yang memantau kondisi gizi 598 keluarga penerima program selama periode Juli 2025 hingga Januari 2026.

Hasil pemantauan menunjukkan penurunan prevalensi anak dengan berat badan kurang (underweight) dan berat badan sangat kurang (severe underweight) sebesar 22,5 persen selama program berlangsung.

img_title Kemarau Jadi Momentum, Preservasi Pantura Batang-Pekalongan-Pemalang Dikebut sampai 2027

Program pendampingan gizi tersebut menerapkan pendekatan sederhana namun konsisten melalui pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan disertai edukasi gizi kepada keluarga.

Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menjelaskan bahwa pendekatan sederhana yang dilakukan secara disiplin justru mampu memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan anak.

img_title Pemkot Yogya Intensifkan Sambang Warga, Edukasi dan PMT Susu untuk Tekan Stunting

Menurutnya, kombinasi protein hewani, pemenuhan kebutuhan energi harian, serta edukasi kepada keluarga menjadi strategi efektif dalam mencegah gangguan pertumbuhan pada anak usia dini.

“Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting,” jelasnya, Kamis 5 Maret 2026.

Dalam laporan akhir program, tercatat 598 keluarga dengan anak berisiko stunting mendapatkan pendampingan intensif melalui jaringan kader kesehatan di tingkat masyarakat.

Program ini juga melibatkan 147 kader lapangan yang bertugas memantau pertumbuhan anak sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga terkait pola makan sehat dan pemenuhan gizi harian.

Selain itu, sebanyak 520 ibu hamil dan ibu menyusui turut mendapatkan pembekalan mengenai gizi keluarga sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting sejak masa awal kehidupan anak.

Ketua TP PKK Kabupaten Batang Faelasufa menilai pendekatan pendampingan keluarga dan edukasi langsung kepada para ibu di desa mampu menutup kesenjangan pengetahuan terkait gizi anak.

Ia mengatakan banyak keluarga sebenarnya mampu menyediakan makanan bergizi bagi anak apabila memiliki pemahaman yang tepat mengenai pola makan sehat.

“Pengetahuan ibu-ibu di desa meningkat karena mereka tidak hanya diberi makanan tambahan, tetapi juga diajarkan bagaimana memilih dan menyiapkan makanan bergizi dengan biaya terjangkau,” ujarnya.

Selain membantu meningkatkan berat badan anak, program tersebut juga mendorong keluarga untuk lebih rutin memantau tumbuh kembang anak.

Di Kabupaten Batang, keterlibatan kader posyandu dan organisasi masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan program di tingkat desa.

Pelaksana Tugas Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Yuni Hastutiningsih, menilai kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting dalam memperluas jangkauan intervensi gizi masyarakat.

Menurutnya, kerja sama lintas sektor dapat mempercepat perubahan perilaku sekaligus memastikan keberlanjutan program pencegahan stunting di tingkat keluarga.

Dari sisi perusahaan, Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari angka statistik, tetapi juga perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Ia mengatakan persoalan gizi anak di Indonesia tidak dapat diselesaikan melalui program jangka pendek saja.

Sebaliknya, upaya pencegahan stunting membutuhkan intervensi yang konsisten, berbasis bukti ilmiah, serta didukung pemantauan rutin di lapangan.

“Dampak terpenting bukan hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas,” kata Ankur.

Program pendampingan ini menitikberatkan pada deteksi dini anak yang mengalami stagnasi berat badan atau sulit mengalami kenaikan berat badan.

Nestlé Indonesia menyebut program tersebut merupakan bagian dari komitmen global perusahaan untuk membantu 50 juta anak hidup lebih sehat pada tahun 2030.

Ke depan, perusahaan menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, serta komunitas lokal guna memperluas upaya pencegahan stunting di Indonesia.