El Nino Picu Kemarau Panjang, Gunungkidul Siaga
- Bing Image Creative
GUNUNGKIDUL, VIVA Jogja - Fenomena iklim global El Nino diperkirakan akan memengaruhi wilayah Gunungkidul mulai April 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan mengeluarkan peringatan dini kepada para petani agar lebih waspada terhadap ancaman kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menegaskan bahwa kesiapan mental dan teknis petani menjadi faktor kunci dalam menghadapi kemarau panjang. Ia menekankan agar petani tidak memaksakan diri menanam padi jika pasokan air tidak mencukupi. “Ada potensi El Nino sehingga harus diwaspadai. Kalau air tidak cukup, jangan dipaksakan menanam padi. Pilihan lain seperti jagung, kacang tanah, atau kedelai lebih aman,” ujarnya saat ditemui di Wonosari, Minggu (29/03/2026).
Langkah mitigasi sudah dilakukan pemerintah daerah melalui sosialisasi intensif. Petani didorong untuk beralih ke komoditas dengan masa tanam pendek atau varietas yang tahan terhadap kondisi minim air. Menurut Rismiyadi, strategi ini penting agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga meskipun cuaca tidak mendukung. Selain itu, pemerintah juga tengah mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air dengan program pompanisasi sungai dan pembangunan sumur bor di lahan kritis. Teknologi hemat air seperti sistem irigasi tetes (drip irrigation) mulai diperkenalkan agar tanaman tetap tumbuh subur meski penggunaan air terbatas.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menambahkan bahwa fenomena El Nino tahun ini merupakan kebalikan dari La Nina yang terjadi tahun lalu. Jika La Nina membawa curah hujan tinggi dan menguntungkan petani, maka El Nino justru berpotensi menekan produktivitas pertanian secara signifikan. “Kami siapkan penyuluh lapangan untuk melakukan pendampingan. Selain itu, sekolah iklim rutin digelar agar petani lebih siap menghadapi masa tanam,” jelasnya.
Data Dinas Pertanian Gunungkidul menunjukkan bahwa luas lahan sawah di daerah ini mencapai sekitar 27.000 hektare, dengan produksi padi rata-rata 140.000 ton per tahun. Namun, saat terjadi El Nino pada 2019, produksi sempat turun hingga 20 persen akibat kekeringan. Kondisi serupa dikhawatirkan kembali terjadi jika petani tidak melakukan penyesuaian pola tanam. Oleh karena itu, surat edaran resmi telah diterbitkan Pemkab Gunungkidul kepada seluruh kelompok tani agar lebih disiplin dalam membaca anomali cuaca dan menyesuaikan jadwal tanam.